Sementara itu, situasi kian memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan tidak akan membiarkan "satu liter minyak pun" dikirim dari Timur Tengah jika serangan AS dan Israel terus berlanjut. Ancaman blokade energi ini langsung dibalas oleh Donald Trump dengan peringatan keras bahwa AS akan membalas Iran jauh lebih hebat jika berani memblokir ekspor dari kawasan vital tersebut.
"Kami akan menghantam mereka begitu keras sehingga mustahil bagi mereka, atau siapa pun yang membantu mereka, untuk pulih kembali," tegas Trump dalam konferensi pers, Senin (9/3) sebagaimana dikutip dari Reuters. Namun, pihak Garda Revolusi Iran bersikeras bahwa mereka memegang kendali penuh atas durasi konflik ini. "Kamilah yang akan menentukan akhir dari perang ini," ujar juru bicara IRGC melalui media pemerintah.
(bbn)




























