“Di proyek Bahodopi Sulawesi Tengah itu sendiri, rencana energy power generating-nya itu adalah menggunakan ekses daripada acid plant dari sulfur itu sendiri nanti, didesain seperti itu,” tegas dia.
Untuk diketahui, Vale saat ini tengah mengembangkan tiga tambang besar tersebar di Bahodopi, Pomalaa, dan Sorowako yang dikombinasikan dengan pembangunan fasilitas pemurnian dan peleburan smelter.
Berdasarkan data per Desember 2025, proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa menjadi sorotan karena nilai investasinya yang terbesar, mencapai US$4,5 miliar, melalui kolaborasi dengan Ford dan Huayou.
Hingga saat ini, progres konstruksi pabrik HPAL di lokasi tersebut telah mencapai 50%, sementara pembangunan sektor tambang menyentuh 60%.
Proyek tersebut diklaim menyerap lebih dari 5.000 tenaga kerja dan ditargetkan mulai berproduksi pada Agustus 2026 dengan kapasitas sebesar 120.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun.
"Diharapkan di Pomala pada Agustus bisa selesai paling tidak dua autoclave, dua line. Kemudian, nanti secara reguler, secara bertahap pada Januari 2027 itu sudah selesai semuanya," kata Direktur Utama Vale Bernardus Irmanto dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Senayan, Senin (19/1/2026).
Sementara itu, proyek smelter Morowali telah memasuki progres operasional. Blok Bahodopi dengan luas 22.699 hektar dilaporkan telah mulai beroperasi sejak kuartal I-2025.
Untuk sektor tambang, konstruksi fase 1 telah mencapai 99% dan kini perusahaan berfokus pada persiapan penyelesaian fase 2 yang ditargetkan rampung pada 2027.
Adapun, pembangunan pabrik HPAL hasil kemitraan dengan GEM dan EcoPro, berkapasitas 66.000 ton per tahun MHP telah mencapai progres 22% dan ditargetkan mulai beroperasi pada rentang 2026 hingga 2027. Total investasi proyek ini mencapai US$2 miliar.
Adapun, di Sulawesi Selatan, PT Vale bersama Huayou tengah mengembangkan proyek IGP Sorowako Limonite di Blok Sorowako seluas 70.566 hektar untuk mendukung hilirisasi nikel limonit.
Pembangunan tambang saat ini telah mencapai 37%, sedangkan progres pabrik HPAL berada di angka 17%. Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi 60.000 ton MHP per tahun dan ditargetkan beroperasi penuh pada 2027.
Meski demikian, Bernadus tidak menampik bilamana progres dari IGP Sorowako menjadi yang paling lambat dibandingkan dua smelter lainnya, karena lambatnya usaha dari pihak ketiga.
"Di Sorowako, ini ada joint venture juga antara Vale dan Huayou, walaupun partner yang kemudian akan menjadi partner ketiga masih dalam assessment. Namun, ini mungkin secara progres ini yang paling terlambat dibandingkan dengan Pomala dan Bahodopi," tegasnya.
Sebagaimana dilaporkan Bloomberg News, para pedagang sulfur kering yang berbasis di Asia bergegas mencari pasokan pengganti yang tertahan di Timur Tengah seiring meningkatnya konflik regional yang mengancam akses terhadap bahan kimia yang digunakan dalam pengolahan pupuk dan nikel.
Kapal-kapal yang membawa material tersebut tetap terjebak di Teluk Persia, menurut tiga pedagang di China dan Singapura, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena membahas masalah pribadi.
Para pedagang tersebut sedang mencari pasokan alternatif untuk memenuhi permintaan, namun ketersediaan di wilayah lain seperti Kanada terbatas, kata mereka.
Para pedagang menambahkan bahwa mereka telah menerima telepon bertubi-tubi dari klien di China dan Indonesia, yang menanyakan perihal kargo yang sudah menunggu untuk melintasi jalur air utama tersebut, serta mengenai rencana pasokan pada masa depan.
Dengan harga sulfur yang sudah mencapai rekor tertinggi karena meningkatnya permintaan, setiap gangguan pasokan yang berkepanjangan dapat mendorong biaya naik lebih jauh.
Sekitar setengah dari perdagangan sulfur melalui laut global — kira-kira 20 juta ton per tahun — berasal dari Teluk dan harus transit melalui Selat Hormuz untuk mencapai pasar dunia. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Iran termasuk di antara pengekspor utama.
Pemasok Timur Tengah menyumbang lebih dari setengah impor sulfur China, menurut sebuah catatan yang dirilis Selasa pekan lalu oleh konsultan SMM Information & Technology Co. Dengan musim tanam musim semi yang mendekat, permintaan sulfur tetap kuat karena pabrik pupuk fosfat beroperasi pada tingkat tinggi dan meningkatkan penyetokan ulang, kata catatan tersebut.
Namun, jika gangguan di selat tersebut berlanjut, persediaan dapat menipis dengan cepat selama musim puncak Maret–April di China.
Meskipun negara tersebut dapat mencari pasokan di tempat lain, jarak pengiriman yang lebih jauh, biaya pengiriman yang lebih tinggi, dan kendala kontrak akan memperlambat penggantian, tambah catatan tersebut.
Di Indonesia, sulfur telah menyumbang lebih dari 40% biaya produksi MHP per Januari, dan kenaikan harga lebih lanjut akan menekan margin bagi produsen nikel, tambah catatan tersebut.
(azr/wdh)






























