Konflik ini telah menyeret lebih dari belasan negara dan memicu kekhawatiran akan krisis inflasi global. Di AS harga eceran bensin melonjak ke level tertinggi sejak Agustus 2024, yang menjadi tantangan berat bagi Presiden Donald Trump dan partainya menjelang pemilihan paruh waktu tahun ini.
Meskipun demikian, Trump tetap bersikeras melanjutkan operasi militer. Dalam unggahan di media sosial pada Sabtu pagi, ia menyatakan bahwa AS akan mempertimbangkan untuk menyerang wilayah dan kelompok di Iran yang sebelumnya tidak masuk dalam target. Pernyataan ini muncul setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian bersumpah tidak akan mundur selangkah pun.
Di tengah berkecamuknya perang, Iran resmi menunjuk putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru, menurut laporan kantor berita semi-pemerintah Fars pada Minggu. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pun telah menyatakan sumpah setia kepada pemimpin baru tersebut. Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS dilaporkan telah memerintahkan evakuasi pegawai pemerintah AS di Arab Saudi.
Infrastruktur energi utama lainnya juga terus terancam. Arab Saudi berhasil mencegat dan menghancurkan sejumlah drone yang mengarah ke ladang minyak Shaybah berkapasitas 1 juta barel per hari. Pekan lalu, negara itu terpaksa menghentikan operasional di kilang Ras Tanura, yang terbesar di negara itu, dan berupaya mengalihkan ekspor minyak melalui pelabuhan di Laut Merah guna menyiasati penutupan Selat Hormuz.
Melambungnya harga energi, termasuk produk turunan seperti gasoil, mulai berdampak luas. Pemerintah China telah menginstruksikan kilang-kilang utamanya untuk menghentikan ekspor diesel dan bensin. Sementara itu, Korea Selatan tengah mengkaji kemungkinan penerapan batas atas harga minyak (oil price cap) untuk pertama kalinya dalam 30 tahun.
Menunjukkan ketatnya pasokan jangka pendek, selisih harga (prompt spread) Brent—perbedaan antara dua kontrak terdekat—melebar hingga lebih dari US$8,29 per barel dalam pola backwardation yang sangat bullish. Sebagai perbandingan, selisih ini hanya sebesar 62 sen pada bulan lalu.
Harga:
- Minyak Brent Crude untuk kontrak Mei naik 17% menjadi US$108,17 per barel pada pukul 06.45 di Singapura.
- Minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman April melonjak 19% menjadi US$107,82 per barel.
- Kontrak berjangka minyak mencatat reli mingguan sebesar 36% pekan lalu—yang menjadi kenaikan terbesar dalam sejarah.
(bbn)

























