Makanan yang telah dimasak itu selanjutnya disajikan kepada anak-anak di sekolah-sekolah dan pesantren, sehingga manfaatnya langsung dirasakan oleh generasi muda.
Tak hanya berhenti pada distribusi makanan, program ini juga dirancang agar limbah yang dihasilkan tidak terbuang percuma.
Sisa makanan akan diolah kembali menjadi pupuk atau pakan ternak yang dapat digunakan dalam proses produksi pangan berikutnya.
Dengan sistem tersebut, siklus ekonomi masyarakat dapat terus berputar dari produksi, distribusi, konsumsi, hingga kembali ke proses produksi.
Budiman menegaskan, program ini tidak dimaksudkan sebagai bantuan sosial semata. Menurutnya, pemerintah ingin membangun arsitektur ekonomi rakyat yang lebih kuat dan berkelanjutan.
“Ini bukan bantuan sosial, ini sistem arsitektur ekonomi rakyat dan fondasi bagi lompatan peradaban Indonesia,” kata Budiman.
Ia menambahkan, gagasan tersebut merupakan bagian dari rancangan besar pembangunan nasional yang diusung Presiden Prabowo Subianto.
Melalui program ini, pemerintah berharap Indonesia mampu memperkuat kemandirian pangan, menggerakkan ekonomi lokal, serta memutus rantai kemiskinan di berbagai daerah.
“Indonesia akan bergerak dari rakyat dan oleh rakyat untuk masa depan bangsa,” pungkas Budiman.
(red)





























