Akan tetapi, penutupan Selat Hormuz meningkatkan ketidakpastian, biaya pendanaan, serta risiko logistik dan pengadaan peralatan.
Dengan begitu, sebagian investor global diprediksi bakal menunda keputusan investasi hingga volatilitas mereda.
“Risiko investasi hulu menjadi lesu akan meningkat bila ketegangan berkepanjangan membuat biaya modal dan risiko operasional naik lebih cepat daripada perbaikan prospek harga, sementara peluang investasi akan tetap terbuka bila stabilitas kebijakan domestik mampu mengimbangi gejolak eksternal,” kata Josua ketika dihubungi, Jumat (6/3/2026).
Kendati begitu, Josua menilai pemerintah tetap dapat menjaga iklim investasi di hulu migas Indonesia dengan memberikan kepastian kontrak, percepatan perizinan, hingga menciptakan kebijakan yang stabil di sektor hulu migas.
Dia meyakini banyak investor di hulu migas yang lebih sensitif dengan ketidakpastian kebijakan, dibandingkan dengan lonjakan harga yang sifatnya bisa sesaat.
Dihubungi terpisah, Kelompok Kajian Ketahanan Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan (K3EPB) Universitas Indonesia memproyeksi penutupan Selat Hormuz dapat membuat harga minyak dunia melonjak ke level US$100/barel.
Ketua K3EPB UI Ali Ahmudi memandang harga minyak mentah yang lebih tinggi dapat menjadi insentif bagi peningkatan lifting dan investasi, tetapi pada saat yang bersamaan kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya logistik, asuransi, dan impor barang modal.
“Dampaknya terhadap ongkos produksi diperkirakan tidak melonjak drastis, tetapi tetap berpotensi naik tergantung tingkat eskalasi,” kata Ali ketika dihubungi, Jumat (6/3/2026).
Sekadar catatan, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) telah melesat 19% sepanjang pekan ini. Meskipun demikian, kontrak berjangka tersebut sedikit melandai ke arah US$79 per barel pada Jumat pagi setelah Presiden Donald Trump memberi sinyal akan adanya "tindakan segera" untuk meredam tekanan harga.
Sementara itu, jenis Brent bertahan di kisaran US$85 per barel, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak pertengahan 2024 pada hari Kamis (5/3/2026).
Pasar minyak mentah terguncang hebat oleh konflik yang kini telah melibatkan belasan negara sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel meluncurkan kampanye militer mereka pada 28 Februari 2026.
Seiring dengan meningkatnya intensitas pertempuran, jalur pelayaran melalui Selat Hormuz nyaris terhenti total.
Kondisi ini menyumbat pasokan minyak ke pasar global dan memaksa produsen mulai menghentikan produksi, sementara kilang-kilang minyak serta kapal tanker turut menjadi sasaran serangan.
(azr/wdh)


























