Logo Bloomberg Technoz

“Tentu kebijakan tidak bebas nilai, pasti dimuati oleh beragam kepentingan. Secara taktikal, mata rantai yang panjang di sektor ini, jika ART berjalan, maka menjadi krusial untuk pemerintah masuk," kata dia.

Kondisi tersebut, lanjutnya, berpotensi menekan industri domestik apabila tidak diimbangi dengan dukungan kebijakan dari pemerintah. Tanpa langkah mitigasi yang tepat, industri tekstil dikhawatirkan sulit mempertahankan daya saingnya.

Ia menambahkan, keberhasilan industri dalam menghadapi perubahan kebijakan perdagangan sangat bergantung pada dua faktor utama, yakni kemampuan adaptasi industri serta dukungan kebijakan pemerintah.

Jika kemampuan adaptasi industri tinggi tetapi dukungan pemerintah lemah, ia menilai sektor industri justru berisiko mengalami tekanan.

“Dalam kondisi seperti itu industri menjadi ‘pengap’, karena hanya sebagian pelaku usaha yang mampu bertahan memanfaatkan jaringan yang mereka miliki, sementara yang lain tertinggal,” ujarnya.

Karena itu, Garda menilai pemerintah perlu memastikan dukungan kebijakan yang memadai agar perubahan skema tarif internasional tidak justru memperlemah sektor industri domestik.

"Kalau dukungan pemerintahnya kuat tapi kemampuan adaptasi industrinya rendah kami sebut dengan industri gagap yaitu industri hanya menjalankan business as usual," tutur dia.

"Dan jika dukungan pemerintahnya lemah maupun adaptasi industrinya rendah, skenario yang terjadi adalah industri gelap."

Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto justru mengatakan salah satu klausul kesepakatan tarif kedua negara akan menjadi angin segar bagi industri dalam negeri.

Salah satu komoditas tersebut adalah khusus untuk tekstil dan produk tekstil (TPT) yang diberikan nol tarif. Airlangga mengatakan, hal ini dapat menyelamatkan sebanyak 4 juta pekerja di sektor tersebut.

"Khusus produk tekstil dan apparel Indonesia, Amerika juga akan memberikan tarif 0% dengan mekanisme tarif rate quota. Tentunya ini akan memberikan manfaat bagi 4 juta pekerja di sektor ini," ujar Airlangga, medio Februari lalu.

Airlangga mengatakan hal itu kemudian juga turu berpengaruh terhadap sebanyak 20 juta masyarakat Indonesia.

Selain tekstil, Airlangga mengatakan, sejumlah komoditas lain seperti kakao, minyak kelapa sawit, rempah-rempah, karet, komponen elektronik, semikonduktor dan pesawat terbang juga diberikan tarif 0%.

(ain)

No more pages