Logo Bloomberg Technoz

Jerit Pelaku Tekstil Belum Usai, Sulit Bahan Baku Dampak Timteng

Farid Nurhakim
05 May 2026 10:10

Ilustrasi dunia tekstil. (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Ilustrasi dunia tekstil. (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kalangan pengusaha di industri tekstil masih mengeluhkan kekurangan bahan baku untuk menjalankan unit produksinya. Konflik geopolitik di Timur Tengah menyeret ketiadaan bahan baku, mengancam produksi hingga kekhawatiran pemutusan hubungan kerja.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Farhan Aqil Syauqi membenarkan pasokan benang polyester kini tengah terbatas. Dia menerangkan, pada dasarnya bahan baku tersebut yaitu asam tereftalat dan etilen glikol sudah aman, bisa didapatkan dari dalam negeri maupun dari negara lain non-Timur Tengah.

“Jadi anggota kami hanya memasok pelanggan loyal saja. Hanya saja kapasitas operasional polimerisasi kita sudah turun dari 1,6 juta ton saat ini, hanya tinggal 800 ribu ton sebagai imbas tutupnya polimerisasi di 4 perusahaan dalam dua tahun terakhir,” tutur Aqil dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa (05/05/2026).


Dia menjelaskan, 800 ribu ton itu dibagi sebagian untuk serat pendek (PSF) sebagai bahan baku benang pintal dan lainnya buat benang filamen. Lalu, matinya 4 unit polimer nasional adalah imbas dari penolakan implementasi bea masuk anti dumping (BMAD) oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Republik Inddonesia (RI) dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) tahun lalu. 

Lanjut Aqil, berdasarkan investigasi Komite Anti Dumping Indonesia (KADI), praktik menjual barang di luar negeri dengan harga yang lebih murah daripada di dalam negeri (dumping) benang filamen dari Cina ini sudah jelas terbukti, sehingga KADI merekomendasikan BMAD.