Logo Bloomberg Technoz

Meski sempat turun dalam pembukaan perdagangan hari ini, harga minyak masih menjadi tekanan bagi pasar Asia hari ini. Menurut Serena Tang, strategis Morgan Stanley, jika kenaikan harga komoditas minyak ini belangsung cukup lama, pertumbuhan ekonomi berpotensi melemah lantaran tekanan inflasi semakin tinggi. 

“Jika guncangan harga minyak berlangsung cukup lama sehingga menekan pertumbuhan sekaligus mendorong inflasi lebih tinggi, maka kita bisa kembali melihat situasi seperti periode 2021–2023 ketika saham dan obligasi sama-sama mengalami aksi jual,” kata strategis Morgan Stanley. 

Dari sisi domestik, kenaikan harga minyak yang di atas asumsi dasar APBN 2026 yakni US$70 per barel ikut menambah kekhawatiran pelaku pasar terkait kondisi fiskal. Kenaikan harga minyak sebesar US$15 per barel dari asumsi seperti yang terjadi sekarang bisa menyebabkan kenaikan belanja subsidi sebesar Rp150 triliun dalam setahun. 

Jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut dan harga minyak bertahan di atas asumsi harga APBN 2026, tekanan terhadap pasar domestik berpotensi semakin besar. Bukan hanya karena dampaknya terhadap inflasi dan subsidi energi, tetapi juga karena meningkatnya kebutuhan stabilisasi rupiah yang volatil. 

(dsp/aji)

No more pages