BPOM mencatat telah melakukan pemeriksaan terhadap lebih dari 2.000 sampel pangan yang diambil dari fasilitas produksi, pasar tradisional, hingga pedagang kaki lima. Sampel tersebut diuji menggunakan metode uji cepat melalui laboratorium mobil keliling BPOM untuk mendeteksi kemungkinan adanya kandungan bahan berbahaya.
Selain pengawasan terhadap makanan berbuka puasa, BPOM juga menaruh perhatian pada peredaran parsel menjelang Idulfitri. Taruna Ikrar mengingatkan pelaku usaha agar tidak memasukkan produk rusak atau kedaluwarsa dalam paket parsel yang dijual kepada masyarakat.
“Permintaan parsel meningkat luar biasa sehingga kadang digunakan pengusaha untuk cuci gudang. Kami akan bertindak tegas dan melakukan inspeksi mendadak (sidak) secara rahasia untuk memastikan isi parsel sesuai aturan,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Taruna juga memastikan ketersediaan obat dan pangan nasional berada dalam kondisi cukup sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap potensi kelangkaan selama Ramadan hingga Idulfitri.
Ia juga menyampaikan bahwa BPOM tengah menyiapkan regulasi terkait nutri-level atau pelabelan gizi yang bertujuan mengendalikan konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL).
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menekan angka kematian akibat penyakit tidak menular yang mencapai 73% di Indonesia.
Di sela kegiatan, Taruna Ikrar juga berbagi kebiasaan pribadinya saat berbuka puasa dengan para tamu yang hadir. Ia menyebut memilih menu sederhana untuk membatalkan puasa.
“Menu favorit saya untuk buka puasa itu, seperti yang saya beli tadi di pinggir jalan. Pertama kurma, lalu rebusan pisang, dan terakhir nagasari. Sehat karena semuanya serba rebusan,” ujarnya.
Taruna menegaskan bahwa pengawasan keamanan pangan tetap dilakukan secara intensif selama Ramadan. BPOM telah mengerahkan mobil laboratorium keliling ke pasar-pasar dan sentra penjualan takjil di berbagai daerah untuk melakukan pengujian terhadap makanan dan minuman yang beredar.
“Hampir di seluruh Indonesia kita lakukan hal yang sama. Fokus kami adalah memastikan makanan, minuman, hingga obat yang dikonsumsi masyarakat betul-betul aman dari zat berbahaya seperti formalin dan pewarna terlarang,” katanya.
Menjelang Idulfitri, Taruna juga mengimbau masyarakat untuk lebih cermat dalam memilih produk pangan. Untuk makanan siap saji, masyarakat diminta memperhatikan perubahan warna, bau, serta bentuk makanan. Sementara untuk produk kemasan, masyarakat diingatkan untuk menerapkan prinsip Cek KLIK, yaitu Cek Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa.
Selain pengawasan, BPOM juga berkomitmen untuk mendukung pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor pangan. Saat ini tercatat sekitar 1,7 juta UMKM menjadi binaan BPOM melalui program percepatan perizinan serta pendampingan teknis agar memenuhi standar keamanan pangan.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah mendorong peran Orang Tua Angkat (OTA), yaitu industri besar yang membantu membina pelaku usaha kecil agar kualitas dan standar keamanan produk pangan yang dihasilkan semakin meningkat.
(rtd)































