Inflasi diperkirakan akan kembali berakselerasi dalam beberapa bulan ke depan seiring meluasnya perang di Iran, yang berisiko mengganggu pasokan minyak global secara berkelanjutan. Filipina, yang sangat bergantung pada impor bahan bakar dan pangan, dipandang oleh para ekonom sebagai salah satu negara di kawasan yang paling rentan terhadap risiko inflasi dan hambatan pertumbuhan akibat konflik tersebut.
Kekhawatiran ini telah menekan nilai tukar peso Filipina ke level yang lebih rendah. Pelemahan mata uang ini berpotensi memperluas inflasi barang impor dan membatasi kemampuan bank sentral untuk menurunkan biaya pinjaman.
Pemangkasan suku bunga terakhir pada Februari dilakukan setelah pertumbuhan ekonomi nasional melambat menjadi 3% pada periode Oktober-Desember, laju terlemah dalam 14 tahun di luar masa pandemi.
Gubernur BSP Eli Remolona bulan lalu menyatakan bahwa kebijakan moneter "tidak bisa berbuat lebih banyak lagi" untuk mendukung pertumbuhan ekonomi pada titik ini.
(bbn)



























