Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya mengungkapkan pengalihan impor komoditas migas dari Timur Tengah ke AS dilakukan sebagai solusi atas penutupan Selat Hormuz.
Terlebih, kata Bahlil, jika harga komoditas dari AS tersebut memiliki nilaiyang ekonomis, maka memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak; bagi Indonesia komitmen pembelian komoditas migas US$15 miliar terealisasi, dan bagi AS memberikan keuntungan secara langsung.
"Dokumen ART yang kita teken itu kan salah satu komitmen kita adalah kita membeli BBM, crude, dan LPG di Amerika kurang lebih sekitar US$15 miliar. Dan ini merupakan bagian yang sekali pun sudah diputuskan untuk di pengadilan mereka untuk dianulir, tetapi kan kita harus punya komitmen dong," kata Bahlil dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Selasa (3/3/2026).
"Dan apalagi kalau harganya itu ekonomis dan win-win, ya kenapa tidak? Dan ini sudah kita lakukan komunikasi," tegas Bahlil.
Bahlil menyatakan terdapat sekitar 20%—25% minyak mentah yang diimpor oleh Indonesia melewati Selat Hormuz. Dia mencatat total minyak mentah global yang diperdagangkan melewati Selat Hormuz sebesar 20,1 juta barel per hari (bph).
Bahlil menegaskan akan mengalihkan sekitar 25% dari total minyak mentah yang diimpor dari Timur Tengah. Akan tetapi, dia enggan menegaskan kapan rencana tersebut dieksekusi.
Begitu juga dengan gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG), Bahlil menyatakan impor yang dilakukan tahun ini mencapai 7,8 juta ton dan 70% di antaranya sudah diimpor dari AS.
Dalam kaitan itu, 30% kebutuhan impor LPG Indonesia didatangkan dari Timur Tengah. Dengan kondisi terkini, Bahlil menyatakan akan turut mengalihkan impor LPG dari Timur Tengah ke AS dan beberapa negara yang tak terdampak konflik.
Sekadar catatan, Pemerintah Indonesia dan AS resmi menandatangani poin-poin kesepakatan perjanjian tarif resiprokal, salah satu poinnya memuat kepastian pembelian komoditas energi dari AS senilai total US$15 miliar atau setara Rp253,4 triliun (kurs Rp16.894).
Dalam dokumen yang dirilis Gedung Putih, Indonesia diwajibkan mendukung dan memfasilitasi pembelian LPG senilai US$3,5 miliar atau setara Rp59,13 triliun.
Selain itu, Indonesia juga akan mengimpor minyak mentah atau crude oil dari Negeri Elang Bondol dengan nilai US$4,5 miliar atau setara Rp76,02 triliun
Terakhir, Indonesia juga harus mengimpor BBM atau bensin olahan senilai US$7 miliar atau setara Rp118,26 triliun.
Adapun, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak di atas US$75 per barel setelah reli 11% selama dua hari—kenaikan terbesar dalam empat tahun terakhir. Sementara itu, minyak mentah Brent ditutup mendekati level US$81.
Presiden Donald Trump pada hari Selasa menyatakan bahwa US International Development Finance Corporation (DFC) akan menawarkan asuransi bagi kapal-kapal guna menjamin aliran energi dan perdagangan, serta menyediakan pengawalan angkatan laut "jika diperlukan."
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia ke Samudra Hindia. Sebagai jalur esensial bagi perdagangan energi global, selat ini mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Sejak perang pecah Sabtu lalu, kapal-kapal tanker menghindari titik nadi ini karena risiko yang terus meningkat, termasuk ancaman Teheran terhadap kapal-kapal yang melintas.
(azr/wdh)






























