Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez dijadwalkan akan memberikan pernyataan resmi pada Rabu pukul 09.00 waktu Madrid.
Ketegangan ini bukan hal baru. Dalam wawancaranya dengan New York Times Januari lalu, Trump sempat berujar bahwa dirinya "tidak membutuhkan hukum internasional," tergantung pada bagaimana hukum tersebut didefinisikan.
"Spanyol sama sekali tidak punya apa pun yang kita butuhkan, selain rakyatnya yang hebat," kata Trump pada Selasa. "Mereka punya rakyat yang hebat, tapi tidak punya kepemimpinan yang hebat."
Pernyataan Trump tersebut langsung memukul pasar keuangan. Indeks iShares MSCI Spain ETF merosot 5,7%, setelah sempat jatuh hingga 6,8% di tengah kekhawatiran inflasi yang menghantam bursa Eropa.
Aksi saling kecam ini bermula pada hari Minggu, saat PM Sánchez menyebut operasi militer AS dan Israel sebagai "intervensi militer berbahaya yang tidak dapat dibenarkan dan di luar hukum internasional." Madrid memperingatkan Washington bahwa dua pangkalan militer di selatan Spanyol tidak boleh digunakan untuk mendukung operasi tersebut karena dianggap melanggar perjanjian yang mengatur fasilitas tersebut.
"Kami ingin tindakan militer selalu dilakukan di bawah piagam PBB dan upaya kolektif," tegas Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares. "Dunia yang berbasis pada aturan jauh lebih baik daripada dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum."
Trump berulang kali menyampaikan kekecewaannya terhadap Sánchez karena menolak seruannya agar sekutu NATO menaikkan belanja pertahanan menjadi 5% dari produk domestik bruto. Oktober lalu, presiden AS itu mengatakan Spanyol seharusnya menerima “hukuman dagang” atas perbedaan pandangan tersebut.
“Saya bisa besok menghentikan — atau hari ini, bahkan lebih baik — menghentikan semua yang berkaitan dengan Spanyol, seluruh bisnis yang berkaitan dengan Spanyol, saya punya hak untuk menghentikannya, memberlakukan embargo, melakukan apa pun yang saya inginkan,” lanjut Trump. “Dan kami mungkin akan melakukan itu terhadap Spanyol.”
Dalam pertemuan tersebut, Bessent menyatakan keyakinannya bahwa Trump memiliki kewenangan hukum untuk memberlakukan embargo terhadap barang-barang Spanyol, tanpa memastikan apakah langkah itu akan ditempuh.
“Pengumuman ini bisa lebih berdampak pada sentimen pasar dibandingkan angka makroekonomi, meskipun jika ancaman itu benar-benar dijalankan akan berdampak buruk bagi ekspor anggur dan minyak ke AS,” kata Ricardo Gil, wakil kepala investasi di Trea Asset Management. “Dari sisi politik, ini merupakan pukulan terhadap kredibilitas pemerintah.”
Di tengah ketegangan tersebut, Kanselir Jerman Friedrich Merz yang tengah berkunjung ke Gedung Putih turut angkat bicara. Merz mendukung desakan Trump agar Madrid meningkatkan anggaran pertahanannya hingga 5% dari PDB, sesuai tuntutan NATO.
"Kami mencoba meyakinkan Spanyol untuk mengejar target belanja NATO," ujar Merz saat duduk di samping Trump. "Spanyol adalah satu-satunya yang belum bersedia menerima itu, dan kami mencoba meyakinkan mereka bahwa ini adalah bagian dari keamanan bersama, bahwa kita semua harus mematuhi angka-angka tersebut."
Selain Spanyol, Trump juga mengkritik Inggris karena melarang penggunaan pangkalan militer di Pulau Diego Garcia untuk serangan ke Iran. Ia mengaku "terkejut", namun tidak sampai mengeluarkan ancaman dagang serupa.
"Ini bukan lagi era Churchill. Inggris sangat tidak kooperatif terkait pulau kecil milik mereka itu," semprot Trump.
Bulan lalu, Mahkamah Agung AS membatalkan penggunaan undang-undang kekuasaan darurat oleh Trump untuk memberlakukan tarif timbal balik secara global. Sebagai respons, Trump mengumumkan tarif global baru sebesar 10% yang kini diancam akan dinaikkan menjadi 15%.
Tim Trump menegaskan bahwa tarif akan tetap menjadi inti dari kebijakan perdagangannya. Mereka berencana meluncurkan serangkaian investigasi cepat yang memungkinkan Trump untuk secara sepihak menetapkan bea masuk guna membangun kembali rezim tarif yang sebelumnya dibatalkan pengadilan.
(bbn)






























