Logo Bloomberg Technoz

Komitmen Bank Indonesia menjaga rupiah dari gempuran gejolak geopolitik hari ini sedikit meredam dan menyisakan pelemahan 0,27% ke Rp16.902/US$ pada pukul 10:05 WIB, meski belum terlalu signifikan. 

Begitu juga dari pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah dan terus tergerus sebanyak 3,45% menjadi 7.666, pada pukul 10:05 WIB

Tekanan yang melanda pasar domestik karena meningkatnya efek dari eskalasi perang terbuka yang membuat pasar kembali memburu aset safe haven. Hal ini terlihat dari indeks dolar AS yang kembali menguat dan bertengger kembali di level 99, setelah beberapa pekan sebelumnya bergerak di rentang 96-97.

Biaya Energi Naik dan Fiskal Defisit

Perang yang berkecamuk antara AS-Israel dengan Iran membawa harga minyak naik berada di level US$81,98 per barel pada pukul 10:20 WIB. Para analis bahkan memprediksi harga ini dapat meroket lebih tinggi lagi menjadi US$108 per barel jika eskalasi perang terus berlanjut. 

Saat ini investor mengkhawatirkan efek perang berkelanjutan dapat berdampak terhadap pasokan energi dunia. Negara pengimpor minyak seperti Indonesia dan beberapa negara lainnya di kawasan Asia juga terkena imbasnya. 

Dengan kenaikan harga minyak, tentu negara emerging markets seperti Indonesia yang menjadi pengimpor akan mengalami tekanan fiskal lantaran adanya imported inflation, alias inflasi kenaikan biaya impor dan mempengaruhi APBN 2026 yang sudah sangat sensitif itu. 

Mengacu pada asumsi makro APBN 2026, harga minyak mentah Indonesia (ICP) dipatok di US$70 per barel. Jika skenario analis menjadi kenyataan dan harga minyak melonjak hingga US$108 per barel, maka terdapat selisih sekitar US$38 dari batas asumsi dasar. 

Berdasarkan analisis sensitivitas asumsi makro terhadap APBN, setiap rata-rata ICP naik US$1 per barel dari asumsi, maka ada risiko defisit anggaran bertambah Rp6,8 triliun. Jadi kalau sampai rerata ICP sepanjang 2026 adalah US$108 barel, maka bisa membuat defisit APBN membengkak Rp258,4 triliun.

Dengan kondisi tersebut, investor kembali kepada akar kegelisahannya selama ini: perkembangan fiskal Indonesia. Defisit anggaran pada 2026 tercatat sekitar 2,92% terhadap produk domestik bruto (PDB), mendekati batas legal 3%. Bagi investor global, kedekatan dengan batas tersebut menjadi sinyal meningkatnya risiko jika terjadi pelebaran belanja negara lebih lanjut. 

Melansir laporan Bloomberg, per Februari 2026, kepemilikan asing di SBN hanya sekitar 13% dari total obligasi rupiah yang beredar, jauh di bawah sekitar 39% pada akhir 2019 sebelum pandemi. Per 27 Februari lalu, total nilai investor asing yang melepas kepemilkan SBN sebesar US$228,4 juta secara mingguan, dan secara tahunan angkanya mencapai US$4,51 miliar. 

Penurunan partisipasi investor asing ini juga jadi sinyal bahwa daya tarik aset Indonesia mulai berkurang dibanding beberapa tahun lalu. Selain faktor fiskal, perubahan kebijakan moneter juga ikut berpengaruh terhadap dinamika rupiah. 

Sejak September 2024, Bank Indonesia telah memangkas suku bunga kebijakan sebesar 150 basis poin. Pelonggaran ini memang bertujuan mendukung pertumbuhan ekonomi domestik, tetapi konsekuensinya adalah menyempitnya selisih imbal hasil yang selama ini menjadi daya tarik utama rupiah dalam strategi carry trade.

(dsp/aji)

No more pages