Sentimen negatif pasar diperparah oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang berjanji akan melakukan "apa pun yang diperlukan" tanpa memberikan kepastian kapan perang di Iran akan berakhir. Fokus investor kini tertuju pada potensi gangguan di Selat Hormuz, jalur krusial bagi seperlima pasokan minyak dan gas cair dunia.
Mathieu Racheter, Kepala Strategi Ekuitas di Julius Baer, mengungkapkan bahwa investor kini tidak lagi menganggap ini sekadar "bising geopolitik", melainkan ancaman nyata guncangan pasokan energi.
“Risiko muncul jika harga minyak bergerak tajam di atas US$100 per barel dan menetap di sana,” ujar Racheter. “Pada titik itu, pembicaraan akan bergeser dari sekadar kenaikan inflasi menuju risiko stagflasi—yakni pertumbuhan yang melambat dibarengi tekanan harga yang kembali meningkat.”
Di tempat lain, saham Zurich Insurance Group AG turun 6,3% setelah memulai penggalangan dana sebesar US$5 miliar untuk membiayai tawaran akuisisi terhadap perusahaan asuransi Beazley Plc.
Dalam kabar kinerja emiten, Beiersdorf AG merosot 17% setelah pemilik merek Nivea asal Jerman itu menyampaikan proyeksi tahunan yang mengecewakan. Sementara itu, saham VAT Group AG turun 4,6% setelah panduan penjualan kuartal pertama produsen peralatan chip tersebut berada di bawah estimasi pasar.
(bbn)

























