Mengulas pada Maret 2020, tekanan hebat datang dari pengumuman kasus Covid-19 pertama di Indonesia. Beberapa kali terjadinya penghentian sementara perdagangan atau trading halt menghiasi IHSG, hingga pernah menyentuh level 3.937 pada 24 Maret 2020.
Untuk Maret tahun ini 2026, ada sejumlah sentimen utama yang amat memengaruhi IHSG. Selain inflasi, serangan AS dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026) memicu perang terbuka dan mendesak investor menghindari aset–aset yang berisiko.
Hulu–hilirnya tensi geopolitik di Timur Tengah diprediksi akan memicu kenaikan inflasi di seluruh dunia. Hal ini terungkap dalam survei global terhadap para ekonom yang digarap oleh Bloomberg.
Ancaman inflasi terbesar dari konflik ini bersumber dari lonjakan harga minyak dan gas. Hal ini menyusul lumpuhnya Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilintasi oleh seperlima pasokan energi laut dunia. Selain itu, terdapat dampak berantai seperti kenaikan harga tiket penerbangan dan biaya distribusi, serta risiko rantai pasok yang lebih luas jika konflik terus berkepanjangan.
Dua hari ini juga ada rilis data neraca perdagangan barang Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Indonesia tercatat mengalami surplus US$950 juta pada Januari 2026. Kendati demikian, nilai surplus jauh lebih sempit dibanding posisi surplus sebelumnya yang mencapai US$2,51 miliar.
Sebelumnya, konsensus Bloomberg yang melibatkan sejumlah analis dan ekonom memprediksi median proyeksi pertumbuhan neraca perdagangan barang Indonesia mencapai sebesar US$2,8 miliar. Artinya realisasi tersebut lebih rendah dari estimasi, yang turut membebani IHSG.
Selanjutnya pada Maret ini terdapat agenda penting laporan cadangan devisa (cadev), Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), dan juga pengumuman penjualan ritel (retail sales). Termasuk Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia terkait suku bunga acuan BI Rate.
Adapun jika dibanding dengan regional, atau rekan–rekannya di Bursa Asia, tercatat FTSE KLCI Malaysia mencatat pelemahan rata–rata mencapai 1,43%, SETI Thailand juga turun 1,06%, Ho Chi Minh Stock Index Vietnam juga melemah 0,81%, dan NIKKEI 225 Tokyo Stock Exchange merah 0,41%.
Jika mencermati lebih lanjut, turun paling dalam kedua dihadapi oleh Bursa Saham Malaysia dengan minus 1,43% pada data rata–rata perdagangan saham dalam 10 tahun.
Kegelisahan pasar saat itu berlangsung imbas perang dagang yang digagas Presiden AS Donald Trump yang diyakini bisa memantik inflasi lagi dan membuyarkan rantai pasok perdagangan, dampak dari tariff.
Index KLCI Malaysia juga tertekan lantaran risiko resesi terlihat jelas lebih tinggi karena serangkaian gangguan pertumbuhan ekonomi AS yang sempat terjadi. Menghadapi ketidakpastian, investor mulai mengalihkan dana mereka ke aset yang lebih aman, menarik dana–dana investasi dari Bursa Saham menuju emas.
(fad)



























