Lebih lanjut, Satya mengungkapkan usai kesepakatan ART kerja sama PLTN diteken, Jepang dan AS bergegas menawarkan kepada pemerintah untuk membuat lokakarya pengembangan reaktor nuklir mini atau SMR.
Satya menyatakan lokakarya tersebut diharapkan menghasilkan sebuah studi untuk pengembangan reaktor mini di Kalbar.
“Ini belum ke project, belum ke apa-apa, lebih kepada studi. Kebetulan Kedutaan Besar Amerika dan Kedutaan Besar Jepang itu menawarkan, 'Ini loh kalau pengen dengerin ahli-ahliku mau ngomong',” ujar Satya.
Sekadar catatan, Indonesia berkomitmen akan bekerja sama dengan AS dan Jepang untuk mengembangkan PLTN berupa reaktor mini di Kalimantan Barat.
Hal tersebut tertuang dalam salah satu poin kesepakatan dagang timbal balik atau ART, yang terkait dengan kesepakatan tarif resiprokal AS.
Adapun, PLN memiliki kerja sama eksisting pengembangan PLTN dengan perusahaan AS, NuScale Power OVS LLC, di Kalbar.
“[Indonesia akan] bekerja sama dengan Amerika Serikat dan Jepang untuk mengembangkan reaktor modular kecil menggunakan pendekatan kemitraan publik-swasta yang modern, dimulai dengan pekerjaan rekayasa dan desain tahap awal untuk proyek di Kalimantan Barat,” tulis dokumen yang dirilis White House di Washington D.C., Kamis (19/2/2026), waktu setempat.
Adapun, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membeberkan pemerintah telah menyelesaikan studi kelayakan atau feasibility study dengan Amerika Serikat & Jepang untuk pengembangan PLTN skala kecil.
Airlangga menuturkan pemerintah tengah menyiapkan perizinan konstruksi untuk proyek pembangkit nuklir dengan model small modular reactor tersebut.
“Nah ini juga menjadi salah satu yang kemarin sudah MoU dengan Amerika dan Jepang, di mana teknologinya sekarang feasiblity study-nya sudah selesai,” kata Airlangga dalam acara Kumparan Green Initiative Conference 2025, Rabu (17/9/2025).
Airlangga menerangkan pemanfaatan nuklir menjadi listrik itu membutuhkan waktu sekitar 7 tahun hingga 8 tahun.
Hanya saja, kata Airlangga, pembangkit nuklir skala kecil dengan model SMR itu membutuhkan waktu relatif cepat untuk bisa beroperasi komersial.
Menurut dia, kapasitas awal pembangkit nuklir SMR bisa dipatok mencapai 70 MW. Kemudian nantinya dapat ditingkatkan secara bertahap dengan estimasi pembangunan sekitar 4 tahun.
“Dan kalau kita mau naikkan lagi skalanya, dia seperti cartridge yang bisa ditambahkan dari 70 MW menjadi 140 MW, 140 MW menjadi 220 MW,” kata dia.
Kendati demikian, dia menegaskan, SMR belum dapat beroperasi pada 2029 mendatang. “[SMR] belum mulai [di 2029],” tutur Airlangga saat dimintai konfirmasi.
Di sisi lain, PLN menargetkan pembangkit nuklir bisa mulai commercial operation date atau COD pada 2032.
BATAN dan BRIN telah melakukan survei dan studi tapak untuk PLTN di sejumlah lokasi, dengan 28 wilayah potensial. Dari 28 wilayah potensial itu bisa dibangun PLTN dengan kapasitas mencapai 70 GW.
(azr/wdh)





























