Logo Bloomberg Technoz

Pasar energi global terguncang sejak perang pecah pada Sabtu lalu dan meluas ke wilayah Timur Tengah yang kaya minyak. Harga minyak, gas alam, dan produk minyak bumi seperti diesel melonjak tajam, yang berpotensi memicu gelombang inflasi global.

Infrastruktur energi kini berada dalam pusaran konflik. Pada Senin, Saudi Aramco menghentikan operasional kilang Ras Tanura setelah adanya serangan drone. Di tempat lain, Qatar menghentikan produksi gas alam cair (LNG) di fasilitas ekspor terbesar dunia setelah menjadi sasaran serangan Iran.

Lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz dilaporkan hampir terhenti total karena risiko keamanan yang ekstrem. Padahal, jalur sempit di lepas pantai Iran ini mengelola seperlima pasokan minyak dan LNG dunia.

Dampak konflik ini menjalar hingga ke pasar pengiriman (freight markets). Data dari Baltic Exchange London menunjukkan biaya pengiriman minyak mentah dari Timur Tengah ke China melonjak ke rekor tertinggi pada Senin, dengan pendapatan rute tolok ukur industri mencapai $424.000 per hari.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengeklaim bahwa Teheran tidak memiliki perselisihan dengan negara-negara tetangga, melainkan fokus "menghadapi tentara Amerika yang ditempatkan di sana." Sementara itu, AS secara terbuka menyuarakan dukungan bagi perubahan rezim di Teheran dan mendorong rakyat setempat untuk menggulingkan pemerintah.

Di sisi lain, pasukan Israel terus melanjutkan serangan terhadap Teheran setelah sebelumnya membombardir proksi Iran, Hizbullah, di Lebanon. Proyek gas alam Leviathan milik Israel juga telah diinstruksikan untuk menghentikan produksi.

Menlu AS Marco Rubio menambahkan bahwa fokus saat ini adalah menghancurkan Angkatan Laut, drone, serta program rudal balistik Iran yang dianggap sebagai pelindung ambisi nuklir mereka. Ia juga menyebutkan bahwa rencana AS untuk memitigasi biaya energi akan mulai diterapkan pada Selasa ini.

Harga:

  • WTI untuk pengiriman April stabil di level US$71,26 per barel pada Selasa pagi di Singapura.
  • Brent untuk penyelesaian Mei ditutup melonjak 6,7% di level US$77,74 per barel pada hari Senin.

(bbn)

No more pages