Logo Bloomberg Technoz

Pelemahan indeks saham tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga dialami mayoritas pasar regional dan global. Investor global telah lebih dulu melakukan risk-off sentiment sebagai respons atas eskalasi geopolitik.

“Pasar saham memang selalu melakukan pricing in terhadap risiko kejadian saat ini untuk masa-masa yang akan datang. Sehingga dampak awal biasanya langsung terlihat di pasar saham sebelum sektor-sektor lain,” ujarnya.

Menurutnya, volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencerminkan penilaian risiko awal oleh investor atas kondisi global. Dalam situasi seperti ini, fluktuasi dinilai sebagai bagian dari mekanisme pasar yang normal.

Meski demikian, OJK bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menyiapkan sejumlah instrumen stabilisasi yang masih berlaku. Di antaranya kebijakan buyback saham tanpa persetujuan RUPS dalam kondisi tertentu, mekanisme auto-rejection bawah (ARB) untuk menahan pelemahan ekstrem pada saham tertentu, hingga penerapan trading halt apabila terjadi tekanan signifikan dan pasar bergerak satu arah (one-sided market).

Dalam jangka pendek, OJK mewaspadai potensi capital outflow sebagai bagian dari dinamika respons global. Pengawasan terhadap likuiditas dan risiko pasar disebut terus dilakukan secara intensif, termasuk melalui koordinasi di forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) bersama Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan LPS.

Hasan menegaskan fundamental perekonomian Indonesia relatif stabil dengan indikator makro yang terjaga. Namun kewaspadaan tetap diperlukan untuk mengantisipasi transmisi volatilitas dan sentimen global.

(wep)

No more pages