Logo Bloomberg Technoz

Sentimen Rupiah hingga BGN, IHSG Berpotensi Lanjut Koreksi

Cahya Puteri Abdi Rabbi
04 June 2026 07:20

Karyawan memfoto layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (22/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan memfoto layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (22/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih menghadapi tekanan dalam jangka pendek setelah anjlok 4,11% ke level 5.941 pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS, kenaikan harga minyak, hingga sejumlah sentimen terkait Danantara menjadi faktor yang membebani pergerakan pasar.

Phintraco Sekuritas menilai, pelemahan IHSG sejalan dengan berlanjutnya tekanan pada rupiah yang turun 0,71% menjadi Rp17.966 per dolar AS pada 3 Juni 2026. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan membuka peluang Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan pada tahun ini apabila pelemahan rupiah berlanjut.

"Jika IHSG ditutup di bawah level 5.900, maka berpotensi menguji area support berikutnya pada kisaran 5.750-5.840," tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya pada Kamis (4/6/2026).


Selain tekanan dari faktor makroekonomi, pasar juga mencermati perkembangan terkait PT Danantara Investment Management (DIM). Moody's menetapkan peringkat kredit perdana DIM pada level Baa2 dengan prospek negatif, setara dengan peringkat utang Pemerintah Indonesia saat ini.

Menurut Moody's, peringkat tersebut mencerminkan hubungan yang sangat kuat antara DIM dan pemerintah, termasuk potensi dukungan negara apabila diperlukan. Namun, lembaga pemeringkat itu juga mengingatkan adanya risiko penurunan peringkat apabila kualitas kredit Indonesia atau faktor-faktor terkait mengalami pelemahan.