Salah satu solusi yang ditawarkan adalah subsidi Bahan Bakar Minyak untuk industri dan manufaktur seharusnya ditambah. Namun demikian, perlu diingat juga bahwa saat ini Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
“APBN dalam dilema meningkatkan pajak sulit, menambah pengeluaran subsidi harus menambah utang” kata Suhartoko.
Setali tiga uang, Ekonom sekaligus mantan Menteri Perdagangan, Marie Elka Pangestu, menyebut setiap kenaikan harga minyak akan langsung memengaruhi keseimbangan fiskal Indonesia.
“Jadi kalau mau tahu hitungannya kan US$1 harga minyak naik itu pengeluaran kita untuk subsidi minus yang kita terima untuk minyak itu Rp 6,8 triliun jadi dengan misalnya US$10 dolar harga yang naik dari US$70 asumsi sekarang itu sudah Rp68 triliun pengeluaran yang tambah di APBN.” kata Marie, Senin (2/3/2026).
Menurut Marie, kenaikan harga minyak saat ini sudah terlihat dan menyentuh level US$78 per barel. Namun arah pergerakannya masih sangat bergantung pada durasi konflik serta kondisi jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz.
Meski begitu, kementerian keuangan cukup percaya diri. APBN dinilai masih cukup tangguh dalam meredam potensi guncangan eksternal, termasuk risiko lonjakan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Juda Agung mengatakan desain fiskal Indonesia sejak awal disusun dengan prinsip kehati-hatian dan fleksibilitas sehingga memiliki bantalan saat terjadi guncangan global termasuk potensi kenaikan harga minyak.
“Fleksibel artinya termasuk kalau terjadi shock-shock. Sebelum terjadi shock-shock, maka ada cadangan fiskal yang dapat dilakukan untuk menahan.” kata Juda dalam CNN Indonesia Economic Forum, Senin (2/3/2026).
Selain ruang fiskal, pemerintah juga melakukan diversifikasi sumber pembiayaan guna menjaga ketahanan terhadap gejolak pasar keuangan global. Ketergantungan pada pembiayaan berbasis dolar AS mulai dikurangi melalui penerbitan global bond dalam mata uang lain.
Ia mencontohkan pemerintah baru saja menerbitkan surat utang global senilai US$4,5 miliar dalam denominasi euro dan renminbi dengan biaya yang dinilai masih kompetitif, masing-masing sekitar 4%–5% untuk euro dan 2%–3% untuk renminbi.
(ell)



























