Dari pasar domestik, surplus perdagangan yang menyempit di bawah ekspektasi ekonom membuat rupiah juga kehilangan daya juangnya. Surplus neraca perdagangan tercatat US$0,96 miliar pada Januari, jauh di bawah estimasi ekonom yang memproyeksikan sebesar US$2,80 miliar.
Begitu juga dengan ekspor tumbuh 3,39% secara tahunan namun masih di bawah estimasi dan ramalan ekonom di 11,04%. Data ini membuat rupiah belum memiliki pegangan sentimen untuk memperkuat posisinya di tengah gempuran ketidakstabilan geopolitik saat ini.
Dari pasar surat utang, investor mulai menjual aset berdenominasi rupiah dengan terjadinya kenaikan yield pada hampir semua tenor. Tenor 1Y dan 2Y masing-masing naik 6,2 basis poin (bps) dan 4 bps menjadi 5,15%. Tenor 3Y juga mengalami kenaikan yield 5,4 bps menjadi 5,45%, dan tenor 5Y naik 5,9 bps menjadi 5,83%. Kemudian, tenor 10Y naik 3,2 bps menjadi 6,45%.
Kenaikan imbal hasil menunjukkan adanya peningkatan premi risiko terhadap potensi pelemahan rupiah lebih lanjut. Investor saat ini agaknya cenderung mengurangi eksposur terhadap aset di pasar domestik.
Intervensi Bank Indonesia
Bank Indonesia menegaskan akan melakukan intervensi di pasar spot dan Non-Deliverable Forward (NDF), baik di dalam maupun luar negeri.
"BI akan terus mencermati pergerakan pasar secara ketat dan merespons secara tepat untuk memastikan pergerakan rupiah tetap sejalan dengan fundamentalnya," ujar Erwin Hutapea, Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI dalam pernyataannya.
Langkah BI dapat jadi sinyal bahwa BI tak ingin gejolak yang terjadi saat ini berubah menjadi tekanan yang lebih luas terhadap sistem keuangan. Dengan masuk ke pasar spot dan offshore, BI agaknya berupaya menjaga ketersediaan likuiditas valuta asing sekaligus meredam pergerakan rupiah agar tidak jatuh lebih dalam.
(dsp/aji)



























