Dalam kaitan itu, Singgih menggarisabwahi kelanjutan proyek DME di dalam negeri akan sangat bergantung pada penetapan hitung-hitungan harga batu batu khusus untuk proyek tersebut.
"Jika batu bara diletakkan pada harga pasar, saya yakin baik teknologi AS maupun China tetap jauh dari ekonomis. Dengan demikian, saya yakin dalam mengembangkan DME, pemerintah tetap akan memperhitungkan nilai keekonomian," tutur dia.
"Jangan sampai terjadi justru DME cost-nya jauh di atas impor LPG [liquified petroleum gas] sendiri."
Sekadar catatan, dalam dokumen Agreement of Reciprocal Trade (ART) yang dirilis White House medio pekan lalu terungkap bahwa Indonesia diminta meningkatkan penggunaan teknologi batu bara AS.
Nantinya, Indonesia akan bermitra dalam mempercepat pengembangan, penerapan, hingga komersialisasi teknologi. Hal ini juga termasuk seperti sokongan dana untuk mendukung penerapan dan pengembangan teknologi emas hitam tersebut.
"Hal ini juga termasuk dengan memanfaatkan semua mekanisme pendanaan yang tersedia untuk mendukung kemajuan teknologi batu bara, termasuk penggunaan batu bara dan produk sampingan batu bara untuk memproduksi bahan bangunan, bahan baterai, serat karbon, grafit sintetis, dan bahan cetak, serta untuk membangkitkan tenaga listrik dan proses industri lainnya," papar dokumen tersebut.
Dalam perkembangan proyek DME di dalam negeri, PTBA sendiri hingga saat ini masih tengah menunggu kepastian Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara terkait dengan mitra potensial setelah APCI hengkang.
Sekretaris Perusahaan PTBA Eko Prayitno mengatakan perusahaan menyerahkan sepenuhnya dan menunggu hasl kajian yang tengah disusun oleh tim internal bersama Danantara.
"Sampai saat ini kita masih berkoordinasi dengan Danantara terkait dengan arahan lebih lanjut,” kata Sekretaris Perusahaan PTBA Eko Prayitno saat dimintai konfirmasi, Sabtu (14/2/2026).
Bagaimanapun, Eko mengatakan dalam pengembangan proyek gasifikasi batu bara, pemilihan teknologi merupakan aspek krusial yang terus dievaluasi secara mendalam oleh PTBA.
Menurutnya, PTBA mengedepankan teknologi yang tidak hanya teruji secara teknis atau proven technology, tetapi juga memiliki efisiensi tinggi dan ramah lingkungan.
Hal itu dilakukan untuk memastikan teknologi yang dipilih nantinya dapat mengonversi batu bara kalori rendah menjadi DME secara optimal dan berkelanjutan.
“Kami menyadari adanya tantangan dalam adaptasi teknologi ini, karena itu, kami terus melakukan studi komprehensif serta berdiskusi dengan berbagai penyedia teknologi global,” ucap Eko.
PTBA sendiri sebelumnya sudah aktif melakukan penjajakan dengan calon mitra potensial untuk proyek tersebut, terutama perusahaan dari China seperti China National Chemical Engineering Group Corporation (CNCEC), China Chemical Engineering Second Construction Corporation (CCESCC), Huayi, Wanhua, Baotailong, Shuangyashan, dan East China Engineering Science and Technology Co Ltd (ECEC).
Dari seluruh calon mitra tersebut, baru ECEC yang sudah menyatakan minat menjadi mitra investor, meski bukan dengan skema investasi penuh atau full investment.
ECEC sendiri telah menyampaikan preliminary proposal coal to DME pada 18 November 2024 dengan processing service fee (PSF) indikatif yang diusulkan berada di rentang US$412—US$488 per ton.
Angka tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan ekspektasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2021 sebesar US$310 per ton.
-- Dengan asistensi Azura Yumna Ramadani Purnama
(ibn/wdh)






























