Logo Bloomberg Technoz

Dolar AS Lesu, Tapi Risiko Geopolitik Batasi Penguatan Rupiah

Redaksi
24 February 2026 07:55

Karyawan merapihkan uang dolar AS dan rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang dolar AS dan rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai kontrak rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) kembali menguat, disokong oleh susutnya indeks dolar AS. 

Kontrak rupiah di pasar offshore dibanderol Rp16.822/US$, menguat 0,1% setelah sempat dibuka stagnan pada posisi penutupan kemarin di Rp16.839/US$. Kabar tentang ketidakpastian tarif yang baru digulirkan kembali oleh Presiden AS Donald Trump membuat ketidakpastian terjadi di pasar aset dolar AS dan membuat pelaku pasar menyalakan alarm risk-on

Mahkamah Agung AS membatalkan tarif Presiden Trump yang diberlakukan melalui IEEPA, dan Trump merespons dengan tarif universal. Awalnya 10% lalu dinaikkan menjadi 15%, disertai pengecualian dan pembebasan baru.


Selain ketidakpastian kebijakan perdagangan AS dengan tarif baru itu, meningkatnya ketidakpastian geopolitik menyusul ketegangan berkepanjangan terkait Iran juga mendorong investor beralih ke aset safe haven, dan membuat harga emas naik untuk hari kelima berturut-turut. Harga emas naik 0,2% menjadi US$5.238,65 per ons pada pukul 07:40 waktu Singapura. 

Investor juga mencermati situasi di Timur Tengah yang masih tegang, ketika AS dan Iran bersiap melanjutkan kembali pembicaraan nuklir. Trump menepis laporan bahwa Pentagon mengkhawatirkan potensi sulitnya kampanye militer berkepanjangan, sembari menegaskan bahwa hasil yang ia inginkan tetaplah tercapainya kesepakatan.