Kondisi ini membuat indeks dolar AS menyusut 0,09% ke 97,7 membawa mata uang Asia bergerak di zona hijau. Namun, pagi ini pada pukul 06:36 WIB, di pasar yang sudah dibuka beberapa mata uang Asia masih beragam dengan yen Jepang dan yuan offshore China yang berbalik arah melemah masing-masing sebesar 0,03%, kemudian disusul dolar Singapura menyusut 0,02%.
Meksi dolar AS melemah, eskalasi risiko geopolitik antara AS dan Iran masih berpotensi mempertebal premi risiko terhadap aset negara berkembang, termasuk Indonesia. Ketidakpastian seputar kelanjutan negosiasi nuklir antara AS dan Iran, serta dampaknya terhadap stabilitas pasokan energi global dan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz, bisa memicu kembali lonjakan harga minyak dan meningkatkan imported inflation di negara net importir energi seperti Indonesia.
Baru-baru ini Goldman Sachs Group menaikkan proyeksi harga minyak untuk kuartal IV-2026 menjadi US$60/barel, sementara WTI naik menjadi US$56/barel, seiring lebih rendahnya penambahan persediaan di negara-negara maju.
"Harga masih diperkirakan turun dari level saat ini sebelum pulih secara bertahap pada 2027, dengan Brent rata-rata US$65/barel dan WTI di US$61 tahun depan," sebut Daan Struyven, analis Goldman, seperti dikutip Bloomberg News.
Dalam skenario tersebut, tekanan terhadap neraca transaksi berjalan berpotensi meningkat apabila kenaikan harga energi tidak diimbangi oleh surplus komoditas utama, sehingga dapat semakin mempersempit ruang stabilisasi nilai tukar oleh otoritas moneter.
Dari sisi domestik, pelaku pasar juga masih mencermati konsistensi bauran kebijakan makroekonomi, terutama terkait kesinambungan disiplin fiskal dan kredibilitas kerangka kebijakan jangka menengah pemerintah. Kekhawatiran terhadap potensi pelebaran defisit fiskal di tengah agenda belanja prioritas dan dinamika pembiayaan utang ke depan dapat memengaruhi persepsi risiko sovereign Indonesia di mata investor asing.
Hal ini sudah terlihat dari hasil lelang surat utang pada pekan lalu (18/2/2026) yang tak teralu mendapat apresiasi pelaku pasar dengan angka incoming bids turun sebesar 17,66% menjadi Rp63,06 triliun dari Rp76,59 triliun dibandingkan lelang sebelumnya (3/2/2026) .
Di saat yang sama, intervensi Bank Indonesia di pasar valas serta instrumen moneter pro-stabilitas agaknya akan menjadi jangkar penting dalam meredam volatilitas rupiah dalam jangka pendek, terutama ketika arus portofolio global masih sensitif terhadap perubahan arah kebijakan The Fed dan dinamika geopolitik seperti yang terjadi saat ini.
Lantas ke mana arah rupiah spot hari ini?
Secara teknikal, rupiah ada risiko melemah hari ini, terbentur resistance-nya. Laju pelemahan sepertinya terbatas di rentang sempit, dengan mencermati support terdekat menuju level Rp16.810/US$. Target pelemahan berikutnya akan tertahan di Rp16.840/US$.
Apabila kembali break kedua support tersebut, maka rupiah bisa saja melemah lebih lanjut menuju level Rp16.880/US$ sebagai support paling kuat dalam time frame daily.
Namun jika rupiah temalah menguat, maka ada peluang menembus resistance Rp16.770/US$ dan selanjutnya Rp16.720/US$ secara potensial. Penguatan lanjutan ada di Rp16.700/US$.
(dsp/aji)































