Serapan Terbatas
Lebih lanjut, Bhima menyatakan pasar produk olahan timah masih terbatas dan memiliki pembeli yang lebih sedikit dibandingkan nikel maupun tembaga.
Untuk itu, dia menilai pemerintah perlu memastikan rantai pasok domestik timah harus terbentuk terlebih dahulu.
Bhima mencontohkan pemerintah harus mengintegrasikan produksi hilirisasi timah tersebut ke produsen panel surya hingga elektronik.
Di sisi lain, perusahaan pelat merah yang bergerak di sektor ini juga harus agresif mencari offtaker atau pembeli dari pasar luar negeri.
“Hilirisasi timah sepertinya tanpa persiapan matang bisa berakhir seperti hilirisasi tembaga,” ujar Bhima.
Dihubungi terpisah, Ketua Badan Kejuruan (BK) Pertambangan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Rizal Kasli menyatakan smelter timah di Indonesia sudah sangat mampu mengolah bijih timah menjadi ingot.
Bahkan, kata dia, terdapat smelter yang sempat menganggur karena terdapat masalah tata kelola timah yang terjadi beberapa tahun belakang.
Rizal juga mendorong agar pemerintah menyiapkan industri turunan timah agar ketika ekspor ingot distop, komoditas tersebut dapat diserap dan dimanfaatkan secara maksimal di dalam negeri.
“Sebagai contoh industri turunan dari timah adalah tin plate yang sangat diperlukan untuk industri pengalengan, industri elektronik dan industri permesinan. Diharapkan dengan kebijakan ini pemerintah dapat mempercepat langkah reindustrialisasi di Indonesia,” kata Rizal.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) ekspor timah Indonesia masuk dalam kode HS 80011000 unwrought tin, not alloyed atau timah murni. Sementara itu, bijih timah yang masuk dalam kode HS 26090000 tin ores & concentrates tercatat tidak diekspor oleh Indonesia.
Ekspor bijih timah sempat tercatat dilakukan pada 2023, 2022, dan 2021; tetapi masing-masing hanya sebesar 91 kilogram (kg), 55 kg, dan 40 kg.
Sepanjang 2025, ekspor timah murni batangan atau ingot tercatat sebanyak 52.416 ton.
Singapura merupakan negara utama ekspor timah Indonesia dengan besaran 12.298 ton. Posisi kedua ditempati China, dengan total ekspor ke negara itu sebesar 9.886 ton.
Posisi ketiga, ditempati oleh Korea Selatan dengan total ekspor sebanyak 8.716 ton. Kemudian, India dengan total ekspor sebanyak 5.035 ton. Sementara di posisi kelima, ditempati jepang dengan total ekspor 4.389 ton.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia melaporkan saat ini pihaknya tengah mengkaji kemungkinan untuk menghentikan ekspor timah.
“Tahun lalu kita melarang ekspor bauksit, dan tahun ke depan kita akan mengkaji beberapa komoditas lain termasuk timah, enggak boleh lagi ekspor barang mentah,” kata Bahlil dalam panel Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jumat (13/2/2026).
Bahlil meminta pelaku usaha untuk investasi lebih intens pada sisi industri hilir timah nantinya. Dia berharap nilai tambah dari hilirisasi timah itu dapat berlipat ganda.
“Silakan teman-teman membangun investasi hilirisasi di dalam negeri,” kata Bahlil.
(azr/wdh)






























