Logo Bloomberg Technoz

Langkah tersebut berpotensi memicu gugatan hukum baru serta meningkatkan ketidakpastian bagi mitra dagang, pelaku usaha, dan investor. Sejumlah pakar, termasuk mantan pejabat IMF, menyatakan bahwa tarif jangka pendek tidak akan secara signifikan mengurangi defisit perdagangan, dan justru berisiko menimbulkan volatilitas arus impor.

Kritik juga menyebut bahwa fokus kebijakan seharusnya diarahkan pada defisit fiskal AS yang diproyeksikan mencapai rata-rata 6% dari PDB dalam dekade mendatang, yang berpotensi mendorong kenaikan suku bunga global.

Dari sisi domestik, pasar agaknya sedikit menyambut positif kondisi fiskal pada akhir kuartal 2025. Belanja modal tercatat meningkat 44,19% yoy menjadi Rp254,4 triliun, yang diterjemahkan menjadi eksekusi investasi yang lebih kuat, khususnya di sektor konstruksi dan aktivitas proyek pemerintah. Sementara bantuan sosial tumbuh 70,55% yoy menjadi Rp73,90 triliun, mengalir ke pendapatan rumah tangga dan menopang momentum konsumsi swasta yang lebih kuat pada kuartal IV-2025.

Sementara dari sisi eksternal Indonesia agaknya sedang memasuki fase krusial seiring adanya diplomasi, perdagangan, dan dinamika moneter bertemu dalam agenda di Washington pekan lalu. Selain partisipasi dalam BoP, Indonesia juga mengisyaratkan penyelarasan ekonomi yang lebih erat dengan AS melalui keterlibatan dalam isu tarif dan perdagangan, serta penawaran 18 proyek hilirisasi kepada investor AS, untuk mempercepat industrialisasi dan mengurangi ketergantungan pada ekspor komoditas mentah.

Sebuah langkah yang cukup pragmatis mengingat kerjasama ini dilakukan di tengah hubungan Indonesia dengan China yang juga sudah terjalin cukup erat di sektor yang sama. 

Di sisi lain, kondisi Neraca Pembayaran Indonesia mencatat bahwa struktur eksternal Indonesia tercatat mengarah pada peningkatan ketergantungan terhadap aliran modal asing jangka pendek dengan peran sektor riil yang menyusut dalam perekonomian Indonesia. 

Dengan sentimen eksternal dan domestik yang berkelindan penguatan rupiah di pasar offshore hari ini bersifat terbatas, seiring investor global masih menempatkan premi risiko yang lebih tinggi terhadap aset negara berkembang di tengah eskalasi geopolitik. 

Rupiah mungkin berpeluang melanjutkan penguatan tipis mengikuti pelemahan indeks dolar AS. Akan tetapi, ruang apresiasi diperkirakan tetap sempit mengingat ketidakpastian eksternal. Selain itu, dinamika fiskal dan moneter di AS yang berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil obligasi global juga dapat membatasi aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. 

Samuel Sekuritas Indonesia mencatat dalam laporannya hari ini menyebut bahwa arah pasar Indonesia jangka pendek tetap bergantung pada tiga variabel: pertama, stabilitas nilai tukar antara dolar AS dan rupiah. Kedua, yield global seperti US Treasury. Ketiga, sinyal koherensi kebijakan: narasi rating atau index, eksekusi reformasi, dan kejelasan regulasi.

Dalam konteks ini, volatilitas rupiah kemungkinan masih akan terjaga tinggi, dengan pergerakan hari ini diperkirakan berada dalam rentang Rp16.840–16.920/US$, sembari pasar menantikan katalis lanjutan dari pidato kenegaraan Presiden Donald Trump serta rilis data ekonomi AS pada paruh kedua pekan ini.

Dengan demikian, meskipun terdapat dukungan domestik dari belanja fiskal yang ekspansif pada akhir 2025 memberikan bantalan terhadap stabilitas makro, tekanan eksternal tetap menjadi penentu utama arah rupiah dalam jangka pendek.

(dsp/aji)

No more pages