Kalender Ekonomi: APBNKita, RUPS Emiten, dan Pidato Trump
Redaksi
23 February 2026 07:21

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pekan sibuk kembali menyapa pasar setelah sesi perdagangan pendek minggu lalu. Namun, pekan lalu menandai kembali risiko geopolitik setelah sempat mereda.
Risiko perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran membuat ketidakstabilan geopolitik menyalakan alarm risk-off bagi pasar dan telah dan mendorong lonjakan harga minyak. Penunjukan Kevin Warsh, sebagai kandidat Gubernur The Fed juga menambah ketidakpastian terhadap arah kebijakan moneter.
Di sisi lain, putusan Mahkamah Agung AS yang menentang tarif berdasarkan IEEPA juga dapat memaksa pemerintahan Presiden Donald Trump mengembalikan sumber pendapatan fiskal besar dari 2025. Artinya, perbaikan posisi fiskal AS relatif terhadap baseline kemungkinan hanya ilusi. Hal ini membatasi ruang pemerintah untuk memperkenalkan kebijakan populis yang berisiko memicu reaksi negatif dari pasar obligasi (bond vigilantes).
Dari pasar domestik, pekan lalu Bank Indonesia (BI) mengumumkan penahanan tingkat suku bunga di 4,75%, volatilitas rupiah membuat kebijakan pelonggaran BI kembali tertunda. Namun, ternyata di balik volatilitas rupiah yang terjadi pada kuartal IV-2025 dan berlanjut hingga awal tahun 2026 ada sektor riil yang menyusut perannya dalam perekonomian Indonesia.
Hal ini tercermin dalam Laporan Neraca Pembayaran Indonesia yang dirilis BI pada pekan lalu, bahwa struktur eksternal Indonesia tercatat mengarah pada peningkatan ketergantungan terhadap aliran modal asing jangka pendek.































