“Kita akan kerja sama pengembangan small modular reactor nuklir, yang sekarang PLN dan AS sudah ada kerja sama, MoU dan feasibility study dengan NuScale,” kata Airlangga dalam konferensi pers secara daring, Jumat (20/2/2026).
Sekadar catatan, Indonesia diganjar tarif sebesar 19% atau lebih rendah dari sebelum pemerintah berunding dengan AS, yakni sebesar 32%.
Dalam prosesnya, Indonesia dan AS turut menyepakati sejumlah kesepakatan dagang timbal balik atau agreement on reciprocal trade.
Direktur Utama PLN Indonesia Power (IP) 2022—2025 Edwin Nugraha Putra sebelumnya mengatakan kelanjutan proyek pengembangan reaktor modular kecil atau small modular reactor (SMR) tersebut tengah dirumuskan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Nantinya, kata Edwin, pengembangan pembangkit ramah lingkungan bertenaga nuklir itu akan sepenuhnya menggunakan teknologi NuScale, perusahaan reaktor modular yang berbasis di Oregon, AS.
“[Lokasinya] masih di Kalimantan Barat, yang menjadi kajian BRIN itu yang dipakai lokasinya. Tidak ada lokasi baru yang dipakai,” ujarnya di Kompleks Parlemen Senayan, Rabu (5/7/2023).
Adapun, perjanjian kerja sama studi pengembangan reaktor modular kecil antara PLN IPdan NuScale berlangsung untuk 8—10 bulan. Hasil studi tersebut selanjutnya akan dievaluasi oleh Badan Perdagangan dan Pembangunan AS atau United States Trade and Development Agency (USTDA).
Edwin tidak menampik, dibutuhkan rentang waktu yang panjang bagi Indonesia untuk dapat merealisasikan pembangunan SMR lantaran masih banyak tahapan yang harus dilalui dalam proses pengembangannya.
Di Amerika Serikat saja, sambungnya, reaktor mini baru akan beroperasi pada 2028. Meskipun NuScale sudah memiliki sertifikasi untuk pengembangan SMR, perusahaan tersebut juga belum pernah merealisasikan pembangunannya.
Lebih lanjut, Edwin mengelaborasi studi pengembangan SMR di Indonesia dirancang untuk kapasitas 2x75 MW. “Jadi skalanya itu modularisasi 25, 50, 75, dan 100. Memang dalam perhitungan kami, lebih baik modular kecil jadi lebih terlingkup proteksinya, daripada modular besar.”
Dia pun belum dapat memastikan apakah listrik yang dihasilkan oleh SMR itu nantinya hanya akan digunakan untuk mengaliri wilayah Kalimantan Barat saja atau dapat ditransmisikan sampai ke Jawa.
Rusia Berminat
Tidak hanya AS yang tertarik menggarap PLTN di Indonesia. Salah satu negara yang sudah menegaskan minatnya, yakni Rusia.
Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan negaranya siap melakukan kerja sama di bidang energi, termasuk energi nuklir dengan Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Putin dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kremlin, Moskwa, Rabu (10/12/2025).
Putin menyatakan siap membantu Indonesia jika akhirnya memutuskan untuk melibatkan Rusia dalam pengembangan teknologi nuklir.
“Ada banyak prospek dalam sektor energi termasuk energi nuklir. Saya tahu bahwa Indonesia memang ada rencana terkait dan kalau Indonesia memang memutuskan melibatkan Rusia, kami selalu siap untuk membantu,” kata Putin kepada Prabowo, dalam pertemuan tersebut seperti disampaikan Sekretariat Presiden, medio Desember.
Adapun, BUMN nuklir Rusia, Rosatom Corp, sempat mengajukan dua proposal pembangunan PLTN di Indonesia dalam pertemuan antarperwakilan bisnis RI-Rusia.
Proposal itu disampaikan Kepala Perwakilan Rosatom di Indonesia Anna Belokoneva dalam Pertemuan Sidang Komisi Bersama ke-13 antara Indonesia dan Rusia di Jakarta pada 14 April 2025.
(azr/wdh)


























