Logo Bloomberg Technoz

Membedah Investasi TikTok di Tokopedia, Siapa yang Untung?

Farras Farhan
15 December 2023 18:13

Ilustrasi Tokopedia dan Tiktok (Arie Pratama/Bloomberg Technoz)
Ilustrasi Tokopedia dan Tiktok (Arie Pratama/Bloomberg Technoz)
Farras Farhan merupakan Equity Research Analyst Samuel Sekuritas Indonesia. Coverage Farras meliputi emiten di bidang migas, poultry, media, dan TMT. Farras melakukan riset investasi untuk manajer portofolio yang  menghasilkan pertumbuhan tahunan komisi perdagangan institusional dan ritel sebesar 200%. Terakhir Farras juga berperan dalam empat project IPO ada tahun 2023

Investasi Tiktok di Tokopedia terus menjadi buah bibir. Sebagian kalangan bilang Tiktok rugi masuk Tokopedia karena bakal diposisikan sebagai tulang punggung e-commerce ekosistem GOTO dalam bertempur dengan kompetitor.

Apalagi terdapat klausul non dilutive yang selalu melindungi porsi kepemilikan GOTO di angka 25%, apabila di kemudian hari Tiktok harus menyuntik dana tambahan ke Tokopedia.

Tetapi, banyak juga yang bilang PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) merugi karena kehilangan pengendalian Tokopedia. Setelah transaksi, GOTO hanya memiliki 25% kepemilikan, sedangkan 75% sisanya dalam dekapan ByteDance, induk Tiktok.

Narasi ini semakin berhembus kencang begitu tahu publik bahwa GOTO tidak menerima sepeser pun dana dari investasi Tiktok ke Tokopedia. Seluruh suntikan modal dan komitmen pendanaan berikutnya masuk ke Tokopedia melalui skema penerbitan saham baru.

Terombang ambing oleh kedua narasi itu, investor merasa gamang. Makanya, tidak mengherankan jika pada hari Keterbukaan Informasi, investor memilih melepas dulu dan membuat harga saham GOTO ambles 20%. Mereka mengamankan cuan (profit taking), terutama yang sudah akumulasi sejak harga saham GOTO berada di bawah Rp70, atau beruntung membeli di titik terendah Rp54.

Tekanan jual langsung mereda begitu publik tahu detail transaksi dan konsekuensi logis dari kesepakatan kedua pihak. Pada perdagangan hari berikutnya, saham GOTO berhasil rebound.

Tiga hari berselang dari keterbukaan informasi, publik akhirnya semakin menyadari bahwa transaksi ini justru bakal menguntungkan semua pihak, termasuk para pemegang saham GOTO dan pelaku ekonomi digital di tanah air.

Ada sejumlah alasan untuk menjelaskan hal tersebut. Antara lain, Tiktok beruntung karena bisa come back ke pasar Indonesia dengan sangat cepat. Mereka bisa menghemat waktu dan tidak kehilangan momentum, karena bertemu jodoh yang pas dengan ta’aruf super kilat.

“Bibit bebet bobot” nya setara. Bagaimana pun, Tokopedia adalah pemain utama loka pasar di negeri ini dengan segala keunikannya. Tiktok dan Tokopedia pun saling melengkapi karena segmen pasarnya relatif berbeda. Masing masing punya basis pelanggan loyal sendiri.

Karena ada rasa kecocokan dan saling membutuhkan, maka proses negosiasinya, terutama soal mahar, menjadi lebih cepat. GOTO berbesar hati melepas pengendalian di Tokopedia, lalu Tiktok membalasnya dengan dua komitmen.

Pertama, menerapkan klausul “non dilutive” kepemilikan saham GOTO di Tokopedia apabila di kemudian hari Tiktok kembali injeksi modal. Jadi porsi saham GOTO di Tokopedia akan tetap 25%, sekalipun Tiktok terus memasok “amunisi”.

Kedua, GOTO akan menerima pendapatan komisi secara rutin (berulang) atas transaksi di platform Tokopedia/Tiktok shop. Meski kedua pihak merahasiakan prosentasenya, tapi ini sebuah komitmen yang menarik. Bayangkan, GOTO mendulang revenue dari Tokopedia tanpa mengeluarkan biaya untuk menghasilkan pendapatan tersebut.

Dengan kata lain, semua biaya operasional Tokopedia, termasuk promosi dan insentif (ongkos bakar uang), pindah ke neraca Tiktok, bersamaan dengan pindahnya pengendalian saham. Tapi, di saat yang sama, GOTO tetap rutin menerima pendapatan komisi.

Potensi pendapatan tentu semakin menggiurkan seiring membesarnya market share hasil gabungan Tiktok dan Tokopedia. Belum lagi kalau Tokopedia menghasilkan laba bersih, GOTO bisa menikmati dividen sesuai proporsinya.

Bagaimana dengan GOTO yang kehilangan status pengendali di Tokopedia? Juga cuan maksimal. Selain mendapatkan komitmen berupa pendapatan komisi dan non dilusi saham, GOTO juga bisa lebih fokus dan lebih leluasa dalam membesarkan bisnis on demand service dan finansial. Monetisasi bisnis akan dioptimalkan terutama di bisnis finansial. Mereka bisa meniru kolaborasi Sea bank dan Shopee di bisnis pinjaman konsumen. 

Jadi, setelah mencermati benefit dari mega transaksi ini, kita bisa menarik kesimpulan bahwa Tiktok dan Tokopedia sama sama diuntungkan. Tiktok bisa kembali ke pasar Indonesia dengan cepat sementara Tokopedia mendapatkan pemodal tangguh dalam memenangkan persaingan.

Selain itu, Tiktok injeksi dana US$ 1,5 miliar dan seluruhnya masuk ke Tokopedia, bukan ke GOTO. Otot Tokopedia yang semakin besar dan kuat, pada akhirnya juga akan menguntungkan GOTO. Dan dalam jangka pendek, sangat mungkin GOTO mencapai adjusted ebitda positif seiring berpindahnya neraca keuangan Tokopedia.

Kalau kedua pihak yang bertransaksi sama sama merasa untung, maka investor publik juga ikut ketiban berkah. GOTO menjadi lebih lincah, lebih gesit, di bisnis ODS dan finansial dengan tetap menerima aliran revenue dari bisnis e-commerce.

Pada akhirnya, investasi Tiktok di Tokopedia menguntungkan publik yang lebih luas. Pelaku UMKM bisa berdagang kembali di platform Tiktok, yang di back up oleh sistem Tokopedia (back end process), dan konsumen bisa menikmati kembali pengalaman berbelanja unik. Sementara pemerintah akan dikenang sebagai wasit yang adil sekaligus regulator yang solutit

(far)