Logo Bloomberg Technoz

Sejarah Jenama Tiffany & Co yang tersandung Isu Kepabeanan

Artha Adventy
14 February 2026 18:15

Pengunjung melintas di dekat toko perhiasan Tiffany & Co yang tutup di Plaza Senayan, Jakarta, Jumat (13/2/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristiant
Pengunjung melintas di dekat toko perhiasan Tiffany & Co yang tutup di Plaza Senayan, Jakarta, Jumat (13/2/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristiant

Bloomberg Technoz, Jakarta - Perjalanan jenama perhiasan mewah Tiffany & Co dari etalase di Fifth Avenue, New York hingga butik-butik premium di Jakarta harus diwarnai dugaan pelanggaran kepabeanan. Hal ini terjadi usai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menyegel salah satu gerainya di Indonesia; dalam operasi pengawasan barang bernilai tinggi.

Kepala Seksi Penindakan DJBC Kanwil Jakarta, Siswo Kristyanto, menyebut penyegelan dilakukan karena adanya dugaan barang impor yang belum diberitahukan sesuai ketentuan kepabeanan. “Kami duga terdapat barang-barang yang tidak diberitahukan kepada pemberitahuan impor barang,” kata dia dikutip, Sabtu (14/02/2026). 

Di tengah proses tersebut, nama Tiffany & Co kembali menarik perhatian publik. Bukan hanya karena statusnya sebagai merek mewah global, tetapi juga karena sejarah panjangnya yang telah membentang hampir dua abad.


Didirikan pada 1837 oleh Charles Lewis Tiffany bersama John B. Young, Tiffany bermula sebagai toko alat tulis dan barang mewah kecil di Manhattan. Perlahan, perusahaan ini bertransformasi menjadi rumah perhiasan bergengsi yang dikenal lewat standar berlian berkualitas tinggi dan desain elegan.

Salah satu inovasi paling berpengaruh adalah “Tiffany Setting” pada 1886 yaitu desain cincin pertunangan dengan enam cakar yang mengangkat berlian agar lebih memantulkan cahaya. Desain ini kemudian menjadi standar global cincin tunangan modern dan memperkuat posisi Tiffany sebagai simbol romansa.