Tekanan eksternal masih membayangi. Data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari ekspektasi, ditambah sikap sejumlah pejabat The Fed yang cenderung hawkish, berpotensi kembali mendorong imbal hasil US Treasury naik. Jika yield tenor 10Y AS kembali bertahan di atas 4,15%–4,20%, arus dana global berisiko kembali mengalir ke aset dolar. Apalagi, pasar masih menanti rilis inflasi AS yang akan menjadi penentu arah ekspektasi suku bunga dalam jangka pendek.
Pergerakan rupiah berpotensi berada di batas bawah kisaran Rp16.700–Rp16.900/US$ jika pelemahan dolar berlanjut, tulis analis Maybank dalam sebuah catatan, seperti dikutip Bloomberg News.
Dari sisi domestik, pelaku pasar masih mencermati posisi fiskal pemerintah dan dinamika pasar obligasi. Realisasi penerimaan negara pada awal tahun serta strategi pembiayaan APBN akan menjadi perhatian utama.
“Namun demikian, kekhawatiran domestik terkait posisi fiskal dan kondisi pasar saham tetap membayangi rupiah,” sebut laporan tersebut.
Jika melihat hasil lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pada Selasa (10/2/2026) tetap mencatatkan minat yang solid, meski dengan yield yang diganjar mahal, agaknya investor masih melihat pasar keuangan domestik atraktif bagi tempat parkir investasi mereka lantaran imbal hasil yang tinggi.
Akan tetapi di sisi lain, terjadi arus dana asing keluar di pasar saham dan obligasi. Melansir data Bloomberg, investor global meninggalkan pasar saham sebanyak US$42,2 juta pada 10 Februari lalu, sementara di pasar obligasi dana investor global tercatat keluar sebanyak US$125,6 juta.
Jika melihat net sell yang terjadi, agaknya tekanan terhadap rupiah masih akan terjadi terutama di pasar offshore. Namun, intervensi yang tetap dilakukan Bank Indonesia di pasar spot dan DNDF diperkirakan masih akan menjaga volatilitas tetap terkendali.
Ke depan, pergerakan rupiah sangat bergantung pada dua faktor utama: arah kebijakan The Fed dan ketahanan fundamental domestik.
(dsp)


























