Dolar Hilang Tenaga, Rupiah & Mata Uang Asia Berjaya
Tim Riset Bloomberg Technoz
11 February 2026 15:33

Bloomberg Technoz, Jakarta - Penguatan mata uang Asia terjadi di tengah pelemahan dolar Amerika Serikat (AS), setelah data ekonomi terbaru menunjukkan indikasi perlambatan aktivitas konsumen di Negeri Adidaya. Hal ini memberi spekulasi adanya pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Federal Reserve.
Data Bloomberg sore ini, Rabu (11/2/2026), menunjukkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat 0,1% ke Rp16.783/US$. Rupiah kompak menguat bersama mayoritas mata uang Asia lainnya.
Penguatan dipimpin oleh yen Jepang yang melonjak signifikan nyaris 1%.
Departemen Perdagangan AS melaporkan, penjualan ritel AS mencatat pertumbuhan pada Desember, setelah tumbuh 0,6% pada November. Data tersebut memberi ruang bagi The Fed untuk mempertimbangkan pemangkasan suku bunga bulan depan, setelah pada Januari menahan suku bunga usai tiga kali pemangkasan berturut-turut.
Prospek pemangkasan suku bunga The Fed ini turut menekan dolar terhadap mata uang utama lainnya.
Bagi mata uang di pasar negara berkembang, termasuk rupiah, ekspektasi penurunan suku bunga AS punya dampak penting. Pertama, turunnya tingkat suku bunga oleh The Fed dapat menurunkan imbal hasil (yield) aset dolar AS dan mengurangi daya tarik greenback. Kedua, memicu sentimen risk-on alias membuka ruang bagi aliran dana kembali ke aset berisiko, termasuk saham dan obligasi di pasar Asia.
Dari Jepang, penguatan hampir 1% pada mata uang yen nampaknya menunjukkan penyesuaian posisi yang cenderung agresif dilakukan oleh investor global. Selama ini, yen dianggap aset safe haven, meski tetap sensitif terhadap selisih suku bunga Jepang-AS.
































