“Nah kami coba menganalisis pasar atau potensi yang dapat Indonesia mainkan perannya adalah di kisaran 1% sampai 5% dari industri dunia."
Di pasar global, Brian memprediksi nilai TREO secara keseluruhan mencapai US$8,5 miliar. Kemudian, nilai tersebut meningkat menjadi sekitar US$21,3 miliar ketika diolah menjadi separated oxide. Lalu, melonjak menjadi US$95 miliar pada tahap hilirisasi.
“Rare earth ini biasanya berikatan juga dengan mineral-mineral lainnya, yang kemudian mineral lainnya itu pun seharusnya bisa dimanfaatkan juga untuk dilakukan downstreaming yang itu memiliki nilai ekonomis tinggi. Itu yang kami lihat totalnya mencapai US$7,42 miliar potensi yang terbuka untuk Indonesia yang seharusnya bisa kita manfaatkan,” ujar Brian.
Sumber LTJ
Brian menjelaskan terdapat tiga sumber LTJ yakni; sumber primer, sumber sekunder, dan sumber tersier.
Untuk sumber primer, sumber LTJ berasal langsung dari endapan mineral utama seperti laterit dan ion adsorption clay (IAC).
Sementara itu, sumber sekunder LTJ berasal dari produk ikutan dan mineral asosiasi hingga residu dan tailing dari timah, bauksit.
Lalu, abu sisa pembakaran batu bara (FABA) pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara juga memiliki kandungan LTJ.
Untuk sumber tersier, LTJ bisa berasal dari daur ulang produk akhir berbasis teknologi tinggi seperti gawai pintar dan komputer jinjing atau laptop.
“Jumlahnya di Indonesia sangat besar karena penduduk kita sangat besar. Itu juga menjanjikan proses ekonomi yang sekarang sudah dilakukan oleh negara-negara lain untuk mengamankan pasokan logam tanah jarangnya,” ungkap dia.
Di sisi lain, Brian menegaskan Indonesia berencana mengembangkan mineral strategis selain LTJ yang memiliki peran penting untuk industri pertahanan, yakni antimon (Sb), tungsten (W), dan tantalum (Ta).
“Kami juga mendapatkan permintaan dan arahan dari Bapak Presiden untuk kemudian melakukan pengembangan juga di beberapa mineral lain yang memiliki dampak atau sangat penting perannya untuk industri pertahanan, yaitu; antimon, tungsten, dan tantalum,” kata Brian.
Mengutip situs resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), LTJ atau rare earth elements (REE) merupakan kelompok unsur logam yang dalam tabel periodik termasuk ke dalam 15 unsur deret lantanida yaitu lanthanum (La), cerium (Ce), praseodymium (Pr), neodymium (Nd), promethium (Pm), samarium (Sm).
Lalu, europium (Eu), gadolinium (Gd), terbium (Tb), dysprosium (Dy), holmium (Ho), erbium (Er), thulium (Tm), ytterbium (Yb), dan lutetium (Lu). Ditambah dua unsur lain yakni scandium (Sc) dan yttrium (Y).
LTJ biasanya dijumpai pada berbagai jenis deposit seperti batuan beku peralkalin, deposit iron-oxide-copper-gold, intrusi batuan beku pegmatit, batuan metamorf, dan endapan sekunder berupa endapan aluvial laterit.
“Endapan logam tanah jarang terdiri atas endapan primer dan endapan sekunder. Endapan primer berkaitan erat dengan proses magmatik dan hidrotermal, sedangkan endapan sekunder berhubungan dengan aktivitas pelapukan dan endapan sedimentasi yang terbentuk pada berbagai lingkungan seperti sungai, pantai, kipas aluvial dan delta,” tulis Kementerian ESDM dalam situs resminya.
LTJ juga bisa terkumpul di sisa endapan mineral yang terbentuk di permukaan bumi, seperti pada nikel laterit, bauksit, dan timah plaser.
(azr/wdh)



























