Pentingnya Mengambil Sebuah Keputusan
Muhamad Fadhol Tamimy
06 February 2026 06:33

|
Penulis: Muhamad Fadhol Tamimy |
Ada sebuah hal yang menarik dalam sejarah penaklukkan Konstantinopel pada 29 Mei 1453: pasukan Sultan Muhammad Al-fatih berhasil menaklukkan ibu kota Bizantium yang amat kuat pada zamannya. Peristiwa tersebut terjadi setelah sang sultan nyaris mengalami kebuntuan dalam 54 hari pengepungannya.
Sadar tidak akan mungkin menembus benteng tersebut, akhirnya ia mengambil sebuah pilihan: ia memindahkan kapal-kapalnya dari laut ke darat demi menghindari rantai besar yang menghalangi jalannya kapal. Sebanyak 70 kapal digotong ramai-ramai ke sisi selat melewati bukit dalam waktu singkat di malam hari.
Tentu saja taktik tersebut sangat mengejutkan, yang pada akhirnya tercipta sejarah fenomenal yang akan selalu dikenang dalam kemenangannya menaklukan ibu kota kekaisaran Bizantium, Konstantinopel.
Kisah di atas tentu memiliki sebuah intisari penting, di mana pengambilan keputusan yang tepat adalah kunci utama memecahkan sebuah problematika dalam hidup.
Baca Juga
Ketidakmampuan dalam mengambil keputusan akan membuat seseorang mengalami kebingungan dalam bertindak, yang pada akhirnya dapat memengaruhi masa depannya.
Alur pengambilan keputusan terbentuk dari dalam bingkai pemikiran mengenai permasalahan yang dianggap sebagai sebuah penyimpangan. Ia merupakan proses berpikir yang dianalisis secara sistematis oleh otak dengan mempertimbankan fakta-fakta, kemudian dicarikan solusi yang paling logis untuk mendapatkan kondisi yang diharapkan.
Penelitian yang dilakukan oleh Narti et al. (2019) menunjukkan bahwa pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan faktor-faktor dan pertimbangan yang membuat individu perlu memahami hal tersebut agar dapat mengambil sikap yang tepat untuk proses pengambilan keputusan. Penelitian lain menunjukkan adanya implementasi keputusan yang efektif memerlukan monitoring, evaluasi, dan penilaian terhadap hasil pelaksanaan keputusan. Ini bertujuan untuk menilai apakah keputusan yang diambil sudah mencapai tujuan seperti yang diharapkan.
Tentunya dalam kehidupan sehari-hari, acapkali kita menemukan suatu momen di mana kita harus mengambil pilihan. Entah itu di lingkup terkecil rumah tangga, sosial bertetangga, aktivitas dunia kerja hingga para pejabat pemangku kebijakan negara. Yang menjadi soal adalah terkadang banyak orang memilih menunda untuk mengambil keputusan atau bahkan terburu-buru tanpa menganalisis sebuah masalah dalam proses pengambilan keputusannya.
Takut salah, atau rasa tidak enak pada orang lain menjadikan kita akhirnya menunda mengambil keputusan atau bahkan mengalihkan keputusan, yang sejatinya membuat diri kita merasa tidak nyaman. Jika hal tersebut terus dibiarkan, tentu dapat mengganggu kinerja hingga kesehatan mental.
Maka jangan heran jika banyak sekali pejabat yang kinerjanya harus tercoreng akibat pengambilan keputusan yang tidak tepat.
Rasa tidak enak dan canggung dalam menentukan arah kebijakan disebabkan adanya hutang politik atau kenaikan jabatan yang harus diperhatikan. Tentunya rasa tidak enak tersebut akhirnya mengaburkan objektifitas dalam mengambil keputusan.
Jika ditelaah lebih mendalam, sejatinya rasa tidak enak dalam mengambil keputusan ini juga memiliki korelasi terhadap budaya feodalisme sejak era kerajaan masa lampau hingga penjajahan kolonial Belanda yang masih dilestarikan.
Tulisan berjudul "Membongkar budaya feodalistis di masyarakat Indonesia modern" (2025) mengungkapkan bahwa rendahnya tingkat pemikiran mengakibatkan warga budaya feodalistis kesulitan dalam mengambil jarak dan bersikap objektif terhadap objek pemikirannya. Implikasinya adalah apa pun yang dipikirkan dan dipercaya cenderung melekat kuat menjadi milik yang akan mati-matian dipertahankannya.
Demikian pula posisinya dalam struktur hierarkis feodal akan dianggap sebagai milik yang melekat padanya beserta privilese atau hak Istimewa diskresi yang membawa kenyamanan. Akibatnya, sakralisasi posisi mengandung potensi konflik kepentingan antara kepentingan pribadi terkait hak Istimewa diskresi dan kepentingan sosial terkait kewajiban untuk setia kepada posisi di atasnya.
Potensi kepentingan seperti inilah yang membuat sakralisasi posisi di masyarakat modern rentan jatuh pada perbuatan penyalahgunaan wewenang dan nepotisme.
Asal melayani, asal bapak senang (ABS) menjadi hal lumrah atau budaya tak tertulis demi melanggengkan karir dan kekuasaan. Bisa jadi tidak semua pejabat merasa nyaman dengan apa yang dilakukan, namun karena terkungkung dalam circle kuasa mau tidak mau mereka pun harus melanggengkan budaya tersebut, dan mengaburkan kecendrungan hati nurani dalam mengambil sebuah pilihan.
Tidak mampunya seseorang dalam mengambil keputusan dengan cepat juga dipengaruhi oleh kebiasaan dalam menunda-nunda atau dalam psikologi disebut dengan "prokrastinasi." Selain itu, seseorang yang memiliki tingkat keberanian yang rendah akan semakin menunda dalam mengambil sebuah pilihan.
Penelitian yang dilakukan oleh Kristanto dan Abraham (2016) berjudul "Decisional Procrastination: The Role Of Courage, Media Multitasking and Planning Fallacy" menemukan bahwa semakin tinggi keberanian seseorang, semakin rendah penundaan pengambilan keputusannya. Hal ini disebabkan karena kekeliruan perencanaan sarat dengan proses kognitif, keberanian memiliki nuansa sikap afektif atau perilaku dominan.
Tentunya pengambilan keputusan yang tepat memiliki korelasi pada kemampuan berpikir kritis.
Adapun kemampuan berpikir kritis yang baik memungkinkan seseorang untuk dapat lebih bijak dalam mengevaluasi situasi lebih mendalam, pengambilan keputusan yang lebih rasional, serta mempertimbangkan berbagai perspektif sebelum mengambil tindakan.
Pengambilan keputusan ini sejatinya dapat ditingkatkan lewat beragam cara, misalnya saja dalam lingkup keluarga, orang tua dapat memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan banyak hal dengan pengawasan tepat. Beri mereka pilihan dan ajak komunikasi untuk beragam pilihan yang mereka ambil. Dengan begitu keberanian dan kreatifitas mereka dalam berfikir dapat lebih meningkat.
Dalam lingkup pendidikan, pembelajaran harus serta merta didorong untuk terus- menerus mengeksplorasi antara teori dengan kondisi kehidupan yang sebenarnya melalui praktik dan eksperimen. Dengan begitu, mereka yang mengenyam pendidikan tidak hanya serta merta kenyang dengan hal-hal teoritis semata namun juga paham bagaimana dunia bekerja berdasarkan teori yang ada.
Jika semakin banyak generasi yang matang dalam mengambil keputusan, cita-cita bangsa tentang Indonesia emas 2045 bukanlah hal yang mustahil untuk diupayakan. Tak ada lagi keputusan-keputusan absurd dari para pemimpin plin-plan akibat bimbang karena tidak enak.
Dan yang lebih penting adalah implementasi kejayaan, laksana Sultan Muhammad Al-fatih yang berhasil berjaya menaklukkan Konstantinopel yang menasbihkan namanya dalam sejarah dunia: sebuah keputusan jitu di tengah kebuntuan dengan analisis kuat dan keberanian yang dipadukan dengan iman.
Salah satu impian bangsa kita untuk menaklukkan ketertindasan, kebodohan, dan feodalisme tumbuh dari dalam bangsa kita sendiri demi mewujudkan cita-cita yang telah termaktub dalam Pancasila, yakni Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, guna mensejahterahkan rakyat. Kita butuh para pemimpin yang mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tepat.
(mft)





















