“Di daerah tujuan wisata, [Dampak penghargaan] memberikan masukan pada usaha-usaha pariwisata, termasuk usaha mikro, kecil, menengah, bahkan usaha besar yang mempekerjakan banyak orang,” kata dia.
Toh, Widiyanti menilai, penghargaan internasional juga menjadi evaluasi kementeriannya untuk mengukur tingkat pariwisata Indonesia dibanding negara-negara tetangga. Hal ini sekaligus menampik dugaan kementerian memberikan imbalan atau bayaran untuk mendapat sebuah penghargaan internasional.
“Kami tegaskan bahwa semua penghargaan adalah penghargaan yang kami terima, dinilai secara objektif. Bahkan berbasis tinjauan oleh para wisatawan dan tidak berbayar,” ujar dia.
Beberapa penghargaan penting antara lain penghargaan Kunci Michelin pada 33 hotel yang memiliki keramahan dan kualitas layanan tingkat dunia di Indonesia. Selain itu, penghargaan dari UN Tourism untuk desa wisata terbaik yaitu Desa Wisata Penglipuran dan Desa Wisata Taro di Bali, serta Desa Wisata Osing Kemiren di Banyuwangi.
Sebelumnya, Ketua Komisi VII DPR, Saleh Partaonan Daulay menyoroti , menilai deretan penghargaan tersebut perlu dijelaskan secara rinci dampaknya terhadap rakyat, khususnya dalam meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di sektor pariwisata.
“Pertanyaan saya, apa manfaat dari penghargaan itu untuk rakyat Indonesia? Itu pertanyaannya,” ujar Saleh dalam rapat bersama Kementerian Pariwisata, Rabu (21/01/2026).
(dec/frg)
































