Masalah lainnya adalah fasilitas produksi yang relatif tua dan tertinggal secara teknologi serta belum ramah lingkungan, sehingga berdampak pada kualitas produk dan tingginya biaya produksi. Industri baja nasional juga menghadapi tekanan persaingan dari baja impor, baik dari sisi harga maupun kualitas.
Selain itu, kontribusi industri baja terhadap investasi baru dinilai belum optimal, ditambah biaya energi dan logistik yang masih tinggi serta, "rendahnya harga impor yang menekan produk industri baja nasional kita."
Ia menjelaskan, berdasarkan data World Steel Association (WSA), produksi baja kasar dunia pada 2025 mencapai 1.849 juta ton. Tiongkok menjadi produsen terbesar dengan pangsa 51,9% atau 960,8 juta ton, disusul India 8,9% atau 164,9 juta ton. Indonesia berada di peringkat ke-13 dunia dengan produksi baja kasar 19 juta ton, meningkat dari 18,6 juta ton pada 2024.
Meski produksi meningkat, tingkat konsumsi baja per kapita Indonesia masih rendah, sekitar 60 kilogram per kapita pada 2025, jauh di bawah rata-rata global 217 kilogram per kapita. Tingkat utilisasi industri baja nasional juga baru mencapai rata-rata 52,7%, yang menunjukkan masih terbukanya ruang ekspansi yang besar.
Di sisi kinerja perdagangan, Faisol mencatat ekspor baja nasional terus meningkat sejak 2022, seiring penurunan impor. Volume ekspor baja naik dari 9,3 juta ton pada 2020 menjadi 23,97 juta ton pada 2025.
Sementara impor yang sempat mencapai 17,9 juta ton pada 2022 turun menjadi 14,8 juta ton pada 2025. Perkembangan ini mendorong neraca perdagangan baja berbalik surplus sebesar 18,09 juta ton, dengan nilai ekspor mencapai US$29,23 miliar pada 2024.
"Struktur pasar ekspor baja Indonesia didominasi oleh kawasan Asia Pasifik di mana 5 negara yang meliputi Tiongkok dengan pasar terbesar sebesar 16,11 juta USD lalu Taiwan, India, Australia, dan Vietnam. Indonesia menempati posisi sebagai salah satu eksportir baja terbesar di Asia Tenggara setelah Malaysia dan Vietnam," jelasnya.
(ain)





























