ermintaan valuta asing untuk keperluan impor dan pembayaran utang luar negeri nampaknya tetap tinggi, sehingga menahan ruang penguatan rupiah meski tekanan eksternal mereda.
Selain itu, sikap investor asing terhadap aset keuangan domestik masih cenderung defensif. Pasar obligasi negara belum menunjukkan pemulihan permintaan yang signifikan, tercermin dari imbal hasil SBN yang bertahan di level tinggi. Yield SUN tenor 10Y masih bertengger di 6,33%, SUN 5Y 5,6%, dan SUN 1Y4,9%.
Selain itu, tingginya persepsi risiko Indonesia di mata pasar global tercermin dalam Credit Default Swap (CDS) Indonesia yang tercatat di kisaran 74 basis poin (bps), jauh lebih tinggi dibanding Malaysia yang hanya sekitar 34 bps. Selisih ini mencerminkan persepsi risiko kredit yang hampir dua kali lipat, meskipun kedua negara berada di kawasan yang sama dan sama-sama berstatus investment grade.
Kondisi ini memberi sinyal bahwa investor masih meminta premi risiko yang lebih besar untuk menempatkan dana di Indonesia, yang pada akhirnya ikut membebani pergerakan rupiah di pasar spot.
Dari sisi kebijakan, pasar juga mencermati langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Intervensi di pasar valas dan obligasi dinilai efektif meredam volatilitas jangka pendek, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong pembalikan tren. Selama persepsi risiko domestik belum mereda, rupiah diperkirakan masih akan bergerak terbatas dan rentan terhadap tekanan.
(riset/aji)




























