Logo Bloomberg Technoz

Didukung Surplus Neraca Dagang, Rupiah Finis di Zona Hijau

Tim Riset Bloomberg Technoz
03 February 2026 15:34

Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada penutupan perdagangan hari ini, sejalan dengan penguatan mayoritas mata uang Asia yang bergerak di zona hijau. Rupiah ditutup terapresiasi 0,15% ke Rp16.765/US$, menandai perbaikan sentimen regional menjelang akhir perdagangan hari ini.

Penguatan hari ini, Selasa (3/2/2026), dipimpin oleh rupee India yang terapresiasi tajam sebesar 1,39%. Kinerja solid tersebut diikuti won Korea Selatan yang menguat 0,67%, baht Thailand 0,54%, ringgit Malaysia 0,50%, dolar Singapura 0,30%, sementara yen Jepang dan rupiah sama-sama mencatat penguatan 0,15%.

Mata uang Asia kompak bergerak menguat Selasa sore (3/2/2026). (Sumber: Bloomberg)

Dari sisi global, pergerakan mata uang Asia mendapat dukungan dari melemahnya dolar AS. Indeks dolar AS tercatat turun 0,29% ke level 97,35, dengan kembali naiknya harga emas sebagai aset safe haven setelah mengalami penurunan dua hari terakhir. Meski data ekonomi AS masih tergolong solid, pasar tampak mulai melakukan penyesuaian posisi.


Rupiah yang sempat tertekan lebih dari dua hari akhirnya ikut bangkit, ditopang data perdagangan yang diapresiasi pelaku pasar. Surplus neraca perdagangan tahun lalu sebesar US$41,05 miliar atau setara Rp689 triliun, di tengah sentimen global yang lebih kondusif, memberi ruang bagi rupiah untuk kembali ke jalur penguatan bersama mata uang Asia lainnya.

Namun, dibandingkan mata uang regional, penguatan rupiah masih terbilang moderat. Hal ini mencerminkan bahwa faktor domestik tetap menjadi penahan, terutama kehati-hatian investor terhadap arah kebijakan moneter dan stabilitas arus modal. Adanya tekanan inflasi yang tinggi mencapai 3,55% juga dapat membebani laju penguatan rupiah.