Logo Bloomberg Technoz

MSCI, Persepsi Risiko, dan Pasar Surat Utang Indonesia

Tim Riset Bloomberg Technoz
28 January 2026 15:22

Karyawan melintas di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (28/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan melintas di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (28/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Dampak keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) membekukan rebalancing tidak hanya berhenti di pasar saham, tetapi menjalar ke obligasi negara hingga instrumen lindung nilai risiko seperti credit default swap (CDS) dan membuat imbal hasil (yield) di pasar surat utang semakin diganjar mahal. 

Bagi pasar surat utang, dampaknya memang tidak langsung dramatis seperti yang terjadi di pasar saham dengan trading halt beberapa kali dalam perdagangan hari ini. Akan tetapi, lebih bersifat kumulatif dengan adanya perlambatan dana pasif dan tuntutan premi risiko lebih tinggi dari investor global. 

Data Bloomberg menunjukkan secara bulanan arus dana asing ke pasar SUN domestik masih mencatatkan aliran masuk sejak awal tahun sebesar US$308,4 juta. Bahkan, hingga Senin (26/1/2026) investor global masih masuk ke pasar surat utang sebesar US$20,9 juta. 


Sebagai pasar emerging market yang berbasis imbal hasil, Indonesia masih menjadi favorit investor global. Namun dengan keputusan MSCI itu, Indonesia berisiko mengalami penurunan kualitas dalam radar pasar keuangan global. 

Artinya, Indonesia akan cenderung diperlakukan sebagai pasar yang ‘perlu diawasi’, bukan menjadi bagian inti portofolio emerging market. Membuat investor hanya akan menyukai pasar Indonesia saat pasar keuangan dunia sedang baik-baik saja, alias risk-on.