Jika ini dibiarkan, setiap inflow yang mengarah ke emerging market akan memprioritaskan negara peer seperti Malaysia yang memiliki CDS rendah.
Meningkatnya persepsi risiko investor di pasar surat utang tercermin dalam Credit Default Swap (CDS). Berbeda dengan peringkat kredit terbitan lembaga pemeringkat rating yang cenderung bergerak lambat, CDS menangkap persepsi risiko secara real time.
Meski sama-sama layak investasi (investment grade), CDS Indonesia secara konsisten berada di atas negara sekelompok (peers). CDS sovereign Indonesia tenor lima tahun berada di kisaran 74,78 basis poin, dibandingkan Malaysia di 39,31 bps dan Thailand di 38,90 bps.
Selisih ini bukan cerminan risiko gagal bayar dalam waktu dekat, melainkan harga yang diminta pasar atas ketidakpastian institusional.
Ketika tuntutan transparansi diangkat MSCI, investor obligasi tidak otomatis keluar total dari SUN. Bisa jadi investor hanya akan memilih mengurangi durasi atau membeli CDS sebagai proteksi. Permintaan CDS meningkat, spread bertahan lebar. Ini membuat Indonesia masih menarik, tetapi dengan catatan adanya premi risiko tambahan.
Bagi dana pasif dan benchmark-aware active funds atau dana kelolaan yang mengacu ketat pada indeks acuan, MSCI bukan cuma indeks, tetapi jadi penanda kualitas pasar keuangan sebuah negara, apakah volatilitasnya rendah, tata kelola relatif kuat, dan stabilitas nilai tukar yang baik.
Ketika penyesuaian bobot Indonesia dibekukan, dapat mengindikasikan adanya isu struktural seperti unresolved uncertainty yang belum selesai dan cukup signifikan untuk menahan reward indeks.
Unresolved uncertainty bisa diartikan sebagai aturan yang kerap berubah, data yang tidak konsisten, atau mekanisme pasar yang sepenuhnya tidak bisa diprediksi. Semua hal ini berdampak pada persepsi risiko investor.
Turun Kelas, Beban Utang Bertambah
Saat ini, Indonesia masih menempati posisi emerging market dalam indeks global. Peringkat (rating) kredit berada di level investment grade (BBB), pasar Surat Utang Negara (SUN) dalam rupiah juga relatif sangat likuid, dan imbal hasilnya termasuk yang paling menarik di antara negara Asia. K
ombinasi ini menjadikan Indonesia magnet bagi investor carry trade alias mereka yang memanfaatkan suku bunga antar negara untuk dapat keuntungan investasi.
Namun, di balik daya tarik yield tersebut, investor agaknya akan semakin mencermati kualitas pasar keuangan domestik. Volatilitas rupiah relatif tinggi setiap kali sentimen global memburuk, mencerminkan ketergantungan pada arus modal asing jangka pendek.
Seperti kondisi pada awal 2026 saat indeks dolar AS menguat dan kondisi geopolitik tak terkendali akibat perang dagang yang dilancarkan Presiden AS Donald Trump, rupiah cenderung tertekan dan mencatatkan pelemahan sepanjang sejarah di Rp16.905/US$ pada 20 Januari.
Untungnya, saat ini rupiah tengah berada di atas angin, bersama dengan beberapa mata uang lain di pasar Asia. Di tengah pelemahan indeks dolar AS yang masih berlanjut, rupiah kembali menguat 0,35% dalam sesi perdagangan siang ini ke posisi Rp16.703/US$.
Saat ini posisi Indonesia sebagai emerging market belum tentu turun kelas menjadi frontier market. Setidaknya, penguatan rupiah hari ini memberi jeda yang dibutuhkan pasar. Namun tidak otomatis menjawab pertanyaan struktural yang saat ini sedang diajukan investor global.
Sebab, jika dibiarkan berlanjut peningkatan premi risiko ini maka akan mendorong kenaikan yield SUN lebih tinggi, dan membuat ruang fiskal tertekan oleh beban bunga utang yang semakin mahal.
(riset/aji)






























