Menakar Prospek Indonesia di Tengah Risiko Kebijakan & Geopolitik
Redaksi
27 January 2026 07:22

Bloomberg Technoz, Jakarta - Di tengah gejolak perdagangan global dan ketidakpastian geopolitik, Indonesia masih tergolong beruntung. Pertumbuhan ekonomi domestik yang tetap bertahan di kisaran 5% dalam lanskap global yang semakin rapuh, patut diapresiasi.
Tentu saja, pertumbuhan ini ditopang oleh permintaan domestik. Permintaan domestik yang masih bisa diandalkan ini yang membedakan Indonesia dengan negara berkembang lainnya.
Namun, ketahanan itu mungkin tidak sepenuhnya kebal. Indonesia saat ini berada di persimpangan jalan, antara apakah mampu menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar, atau justru tergelincir akibat akumulasi risiko kebijakan domestik dan tekanan eksternal yang semakin kompleks.
Melansir riset Bloomberg Economics, Indonesia tengah menghadapi risiko fiskal dan moneter yang masih menjadi sorotan utama investor. Kesepakatan burden sharing baru antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI), rencana pelonggaran batas defisit anggaran 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), menimbulkan pertanyaan serius tentang arah disiplin fiskal ke depan. Kekhawatiran pelaku pasar ini tercermin pada nilai tukar rupiah yang terus berada di bawah tekanan.
Meski pekan ini rupiah tampak menguat, namun sejatinya penguatan rupiah merupakan efek dari pelemahan dolar AS sehingga rupiah ikut terseret penguatan mata uang di pasar Asia.




























