Sementara itu, dari sisi penggunaan dana yang dihimpun dari SBN Valas tersebut, Novi menyampaikan pemerintah bersikap fleksibel, baik dalam pendekatan penerbitan utang bersifat fleksibel yakni dapat dilakukan secara front loading (besar di depan) atau back loading (lebih besar di belakang).
"Kalau faktor risiko kedepan cukup berat bisa juga dilakukan front loading. Mengingat opportunity dari likuditas saat ini yang ample, tapi again ini fleksibel sih pemerintah," tegasnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan aturan terbaru DHE telah diteken Presiden Prabowo Subianto pada awal tahun 2026.
Aturan anyar itu akan merevisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 Tahun 2025 tentang Perubahan atas PP Nomor 36 Tahun 2023 tentang Devisa Hasil Ekspor.
“Jumat minggu lalu sudah ditandatangani oleh Presiden. Jadi sudah clear, tinggal pengundangan saja," kata Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita di Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Purbaya menegaskan, revisi aturan DHE ini bertujuan memperkuat cadangan devisa nasional yang dinilai belum optimal meskipun Indonesia mencatatkan surplus perdagangan.
Misalkan, dia mencontohkan, cadangan devisa Indonesia pada 2024 tercatat sebesar US$155,7 miliar dan hanya naik tipis menjadi US$156,5 miliar akhir 2025.
"Naiknya hanya 0,8 miliar. Padahal tadi ada di presentasi disebutkan surplus perdagangan kita US$38,5 miliar," tegasnya.
Menurut Purbaya, kondisi tersebut menunjukkan adanya celah dalam aturan DHE sebelumnya, di mana devisa ekspor memang masuk ke dalam negeri, tetapi segera keluar kembali dalam waktu singkat.
Lewat revisi beleid sebelumnya, pemerintah akan memperketat pengelolaan DHE dengan mewajibkan penempatannya di bank-bank Himbara.
Langkah tersebut dinilai penting agar pemerintah dapat mengontrol arus devisa secara lebih efektif.
Selain itu, dia berharap kebijakan ini dapat membuat DHE benar-benar berkontribusi terhadap stabilitas fiskal negara.
"Jadi kita akan rapatkan itu supaya kebijakan DHE betul-betul berdampak kepada keadaan devisa kita sehingga pasar finansial kita lebih stabil, dananya cukup ada, dan nilai tukar rupiah kita juga menjadi lebih baik ke depannya," terangnya.
(lav)




























