Selain itu, gangguan bipolar juga perlu dikenal sejak dini. Kondisi ini ditandai dengan perubahan suasana hati yang ekstrem dan bersifat siklik, mulai dari episode mania—ditandai energi berlebihan, bicara cepat, dan perilaku impulsif—hingga episode depresi yang ditandai dengan kesedihan yang mendalam, kelelahan, dan putus asa. Bipolar bukan sekadar perubahan suasana hati biasa, tetapi gangguan biologis.
ADHD juga termasuk gangguan yang sering dialami, baik pada anak maupun dewasa. Gejalanya meliputi sulit fokus dan mempertahankan perhatian, impulsif, gelisah atau hiperaktif, serta masalah dalam akademik dan hubungan sosial. “ADHD bukan kurang disiplin, melainkan cara kerja otak yang berbeda,” jelasnya.
Terkait penanganannya, dr. Lahargo menegaskan bahwa gangguan jiwa dapa. Pendekatan komprehensif yang diperlukan, mulai dari psikoterapi seperti terapi perilaku kognitif.
Ia menekan, semakin dini gangguan jiwa teratasi, semakin baik prognosisnya dan semakin kecil dampak jangka panjang yang ditimbulkan. “Gangguan jiwa bukan akhir cerita. Ia bisa menjadi awal dari hidup yang lebih sadar dan bermakna,” katanya.
Sebagai pesan penutup, dr. Lahargo mengingatkan bahwa jika satu dari delapan orang mengalami gangguan jiwa, maka tanggung jawab masyarakat bukanlah menghakimi, melainkan memahami.
(smd/spt)





























