Target Operasi
Wisnu menambahkan proyek pabrik baterai tersebut ditargetkan rampung dibangun pada akhir semester I-2026 dan direncanakan mulai beroperasi pada semester II-2026.
Dia mengklaim pembangunan proyek pabrik baterai tersebut berjalan sesuai dengan tahapan yang telah direncanakan.
“Pabrik baterai di Karawang direncanakan dapat beroperasi lebih dahulu mengingat fasilitas tersebut telah memiliki kontrak pasokan dengan produsen kendaraan listrik, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ungkap dia.
Adapun, Wisnu mengungkapkan final investment decision (FID) proyek smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL) di Buli, Halmahera Timur hingga saat ini masih dalam tahap finalisasi.
Wisnu menyatakan proses konstruksi smelter HPAL perusahaan bakal dilakukan usai FID diperoleh. Akan tetapi, dia tak mengungkapkan kapan target FID dirampungkan.
Sementara itu, konstruksi smelter nikel pirometalurgi berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) di kawasan industri Feni Haltim (FHT) masih berlangsung usai dimulai pada semester II-2025.
Dua pabrik pemurnian nikel itu menjadi bagian dari investasi Antam bersama dengan konsorsium yang dipimpin raksasa baterai China, CATL.
“Proyek RKEF saat ini masih berada pada tahap konstruksi, dan Proyek HPAL masih dalam tahap persetujuan investasi,” ujar Wisnu.
Sekadar catatan, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menargetkan pabrik baterai listrik terintegrasi garapan konsorsium yang dipimpin CATL beroperasi pada semester I-2026.
“Khusus untuk hilirisasi nikel, ekosistem baterai mobil yang tahun kemarin di-groundbreaking oleh bapak Presiden Prabowo di Karawang yang punya CATL direncanakan pada semester I-2026 itu sudah kita resmikan,” kata Bahlil dalam konferensi pers di kantornya, Kamis (8/1/2026).
Adapun, investasi CATL dilakukan lewat Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co Ltd (CBL), usaha patungan bersama dengan Brunp dan Lygend. Dua perusahaan yang disebut terakhir punya keahlian pada pembuatan bahan baku baterai setrum.
Antam memegang 30% saham pada proyek HPAL bersama dengan konsorsium CBL tersebut. Smelter HPAL itu dirancang untuk menghasilkan 55.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun dengan nilai investasi US$1,9 miliar.
Sementara itu, proyek RKEF, memiliki nilai investasi mencapai US$1,4 miliar dan ditargetkan beroperasi pada 2027. Adapun, kapasitas pabrik mencapai 88.000 ton nickel pig iron (NPI) per tahun.
ANTM memegang 40% saham pada usaha patungan yang dibentuk bersama dengan CBL yang mengendalikan smelter itu, PT Feni Haltim.
Kedua proyek smelter itu menjadi bagian dari investasi integrasi CBL bersama dengan Indonesia Battery Corporation (IBC) dengan kode proyek Dragon.
Investasi terintegarasi dari sisi hulu tambang ke perakitan baterai listrik itu diperkirakan bakal menelan investasi mencapai RpUS$6 miliar atau sekitar Rp96 triliun.
IBC bersama dengan konsorsium CBL telah menandatangani sejumlah usaha patungan atau joint venture (JV) pada beberapa tahap bisnis baterai EV itu dari sisi hulu atau upstream tambang nikel, antara atau midstream, sampai hilir atau downstream berupa pabrik sel baterai.
Di sisi hulu tambang turut terbentuk usaha patungan antara Antam bersama dengan konsorsium CBL lewat PT Sumber Daya Arindo (SDA). Antam memegang 51% saham sementara sisanya dipegang afiliasi CBL, Hongkong CBL Limited (HKCBL).
Adapun, usaha patungan lainnya dikerjakan IBC bersama dengan CBL meliputi bahan baku baterai, perakitan sel baterai hingga daur ulang. IBC cenderung memiliki saham minoritas pada lini kerja sama midstream sampai hilir ini.
IBC memegang saham 30% untuk proyek pengolahan bahan baku baterai dan perakitan sel baterai. Sementara itu, IBC mendapat bagian 40% saham untuk usaha patungan di sisi daur ulang baterai.
(azr/wdh)































