Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Masih Tertahan Saat Mata Uang Asia Menguat

Tim Riset Bloomberg Technoz
21 January 2026 09:17

Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah hari ini, Kamis (21/1/2026), dibuka stagnan di Rp16.950/US$, menyusul tekanan yang terjadi terhadap dolar Amerika Serikat (AS). 

Dari pasar Asia, mayoritas mata uang bergerak di zona hijau. Penguatan datang dari baht Thailand terapresiasi 0,5%, won Korea Selatan 0,44%, peso Filipina 0,21%, yen Jepang 0,11%, serta dolar Hong Kong dan dolar Singapura masing-masing 0,2%. 

Di saat mayoritas mata uang Asia rebound, stagnasi pergerakan rupiah pada awal perdagangan mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar terhadap pasar domestik. Tekanan terhadap dolar AS memberi ruang bagi mata uang Asia untuk menguat, tapi rupiah agaknya belum ikut memanfaatkan momentum tersebut. 


Ada beberapa faktor domestik yang masih mengganjal rupiah, terutama terkait kebutuhan pembiayaan fiskal dan persepsi risiko aset rupiah. 

Hasil lelang Surat Utang Negara (SUN) kemarin bisa jadi referensi utama pasar. Meski total penawaran masuk mencapai lebih dari dua kali target indikatif, serapan terbatas pemerintah yang terbatas mencerminkan kehati-hatian terhadap harga yang akan membebani pembiayaan. Imbal hasil tenor panjang juga bertahan tinggi memberi sinyal bahwa premi risiko rupiah belum sepenuhnya turun.