Logo Bloomberg Technoz

Saham–saham barang baku, saham Konsumen non primer, dan saham perindustrian menjadi penopang utama IHSG cetak rekor, dengan menguat 2,49%, 2,08%, dan 1,86%, disusul oleh menguatnya saham Kesehatan mencapai 1,1%.

Saham–saham Konsumen primer juga berhasil mengalami penguatan 1,08%.

Kenaikan IHSG yang begitu percaya diri merupakan efek secara langsung dari melesatnya sejumlah saham Big Caps.

Berikut selengkapnya berdasarkan data Bloomberg, Selasa (20/1/2026).

  1. Bumi Resources Minerals (BRMS) menyumbang 11,98 poin
  2. Merdeka Gold Resources (EMAS) menyumbang 10,86 poin
  3. Jaya Sukses Makmur Sentosa (RISE) menyumbang 7,41 poin
  4. Bukit Uluwatu Villa (BUVA) menyumbang 6,07 poin
  5. XLSmart (EXCL) menyumbang 4,06 poin
  6. Merdeka Copper Gold (MDKA) menyumbang 3,95 poin
  7. Metro Healthcare Indonesia (CARE) menyumbang 3,61 poin
  8. Pacific Strategic Financial (APIC) menyumbang 3,25 poin
  9. Impack Pratama Industri (IMPC) menyumbang 2,51 poin
  10. Nusantara Sawit Sejahtera (NSSS) menyumbang 2,33 poin

Adapun saham–saham barang baku lainnya juga jadi pendorong laju melesatnya IHSG, saham PT Indonesia Fibreboard Industry Tbk (IFII) melesat dengan kenaikan 25%, dan saham PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OKAS) juga melesat di zona hijau dengan menguat 17,2%.

Adapun saham–saham Konsumen non primer juga jadi pemicu penguatan IHSG, saham PT Bersama Mencapai Puncak Tbk (BAIK) melesat 34,6%, saham PT Purisentul Permai Tbk (KDTN) menguat 25%, dan saham PT Surya Permata Andalan Tbk (NATO) juga menguat dengan terapresiasi 25%.

Disusul oleh penguatan saham perindustrian lain, saham PT Satu Visi Putra Tbk (VISI) yang menguat 24,8%, saham PT Harapan Duta Pertiwi Tbk (HOPE) melesat 24,4%, dan saham PT Voksel Electric Tbk (VOKS) yang mencetak penguatan 9,22%.

Adapun Bursa Asia hari ini justru terpeleset di zona merah. Indeks PSEi Philippine ambles 1,32%, NIKKEI 225 Jepang terjun bebas 1,11%, Shenzhen Comp China melemah 0,83%, FTSE KLCI Malaysia jatuh 0,77%, KOSPI Korea melemah 0,39%, CSI 300 China drop 0,33%, Hang Seng Hong Kong turun 0,29%, Strait Times Singapore melemah 0,14%, dan Shanghai terdepresiasi 0,01%.

Panin Sekuritas memaparkan, Katalis positif yang mendorong laju IHSG datang dari sentimen meningkatnya flow ke emiten big banks yang saat ini tengah menguat menjelang RDG BI.

IHSG All Time High 9.134,7 (Bloomberg)

Pengumuman Keputusan suku bunga Bank Indonesia yang diagendakan Kamis besok, diproyeksikan tetap berada di level 4,75% pada pertemuan Januari 2026 di tengah nilai tukar rupiah yang melemah di level Rp16.950/US$. Di sisi lain, inflasi masih terjaga di level 2,92% pada Desember 2025 lalu, sehingga BI diproyeksikan menahan BI Rate di bulan ini.

Selain itu, Phintraco Sekuritas menyebut, IHSG ditutup menguat tipis pada level 9.134,7 pada perdagangan Selasa, setelah sempat mencapai level intraday tertinggi baru di 9.174,47 dan fluktuatif. 

Sector basic materials membukukan penguatan terbesar, ditopang oleh kenaikan harga emas pada level tertinggi baru, yaitu di atas level US$4.700 per troy ounce, karena permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik. 

Namun momentum penguatan IHSG mulai melemah secara teknikal, yang disinyalir dari indikator MACD dan indikasi adanya distribusi. Stochastic RSI juga berpotensi mengalami Death Cross di area overbought

“Sehingga IHSG berpotensi terjadi pullback akibat profit taking, dengan pergerakan IHSG diperkirakan pada kisaran 9.050 – 9.200,” jelas Phintraco, Selasa.

Ditambah lagi dengan Bursa Asia yang mayoritas ditutup melemah karena investor menimbang munculnya kembali ancaman tarif perdagangan dari AS terkait dengan Greenland, yang memperbesar kecemasan tentang meningkatnya ketegangan perdagangan dengan Eropa.

Menyitir riset Phillip Sekuritas Indonesia, seperti yang diketahui, Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada Sabtu– delapan negara Eropa (Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia) akan menghadapi kenaikan tarif, dimulai dari 10% pada 1 Februari dan naik menjadi 25% pada 1 Juni, jika kesepakatan yang memungkinkan AS untuk membeli Greenland tidak tercapai.

“Negara-negara Eropa dilaporkan sedang membahas tarif balasan dan langkah–langkah hukuman ekonomi yang lebih luas sebagai tanggapan terhadap ancaman tarif Presiden Trump tersebut,” terang Philip.

(fad)

No more pages