“Hingga saat ini, terdapat tujuh perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna dalam keterangan tertulis, Minggu (18/1/2026).
Nyoman menjelaskan, selain lima perusahaan beraset besar, terdapat satu perusahaan dengan aset skala menengah Rp50 miliar hingga Rp250 miliar, serta satu perusahaan dengan aset skala kecil di bawah Rp50 miliar.
Dari sisi sektor usaha, perusahaan-perusahaan yang mengantre IPO berasal dari berbagai bidang, meliputi satu perusahaan sektor basic materials, satu sektor energi, dua sektor keuangan, satu sektor industri, satu sektor teknologi, serta satu perusahaan dari sektor transportasi dan logistik.
Hingga pertengahan Januari 2026, Nyoman menyampaikan belum ada perusahaan yang merealisasikan pencatatan saham di BEI, sehingga belum terdapat dana IPO yang berhasil dihimpun pada awal tahun ini.
Sebelumnya, BEI juga mengungkapkan bahwa terdapat dua emiten kategori lighthouse company yang direncanakan melantai di bursa pada kuartal pertama 2026. Kedua perusahaan tersebut berasal dari sektor infrastruktur dan pertambangan.
“Lighthouse ada dua. Yang ada itu sektor infrastruktur dan mining,” kata Nyoman saat ditemui usai penutupan perdagangan BEI di Main Hall, Selasa (30/12/2025).
Nyoman menegaskan bahwa lighthouse company merupakan emiten dengan karakteristik minimum kapitalisasi pasar Rp3 triliun dan porsi saham publik atau free float sekurang-kurangnya 15%. Di luar dua emiten tersebut, masih terdapat tujuh perusahaan lain yang berada dalam antrean IPO 2026 dan berasal dari beragam sektor.
BEI juga mencatat perkembangan instrumen pasar modal lainnya. Hingga 15 Januari 2026, telah diterbitkan sembilan emisi dari tujuh penerbit efek bersifat utang dan/atau sukuk (EBUS) dengan total dana terhimpun Rp5,85 triliun. Sementara itu, masih terdapat 10 emisi dari lima penerbit EBUS dalam pipeline, yang didominasi sektor energi, industri, dan infrastruktur.
Untuk aksi korporasi lain, BEI mencatat tiga perusahaan tercatat telah merealisasikan rights issue dengan total nilai Rp2,90 triliun hingga pertengahan Januari 2026. Selain itu, masih terdapat satu perusahaan sektor properti dan real estat yang berada dalam pipeline rights issue.






























