Logo Bloomberg Technoz

Selain WEF, apa saja kalender ekonomi pada pekan ini?

Senin, 19 Januari 

  1. China akan merilis laporan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal IV-2025 dan aktivitas ekonomi domestik periode Desember. Konsensus ekonom Bloomberg memprediksi pertumbuhan ekonomi China kuartal keempat tahun lalu melambat sebesar menjadi 4,5% secara tahunan, turun dari posisi kuartal ketiga sebesar 4,8%. 

  2. World Economic Forum mengangkat tema ‘A Spirit of Dialogue’ menjadi forum pertemuan pertama para aktor negara di tahun ini. Di tengah lanskap geopolitik yang semakin terfragmentasi, WEF mengajak pemangku kebijakan negara-negara untuk kembali melihat dampak negatif atas penerapan tarif sebagai alat tawar-menawar dalam perdagangan internasional. Forum yang akan berlangsung hingga 23 Januari ini juga dihadiri oleh delegasi Indonesia, termasuk Danantara. 

  3. Jepang akan merilis data industrial production periode November, secara bulanan dan tahunan. Data ini akan memberikan gambaran tentang kondisi ekonomi Jepang. Angka produksi industri Jepang pada bulan sebelumnya -2,6% secara bulanan dan -2,1% secara tahunan. Hari ini, data itu rilis dan menunjukkan pelemahan menjadi -2,7% secara bulanan dan -2,2% secara tahunan.

Selasa, 20 Januari 

  1. Bank komersial China merilis suku bunga pinjaman. Konsensus Bloomberg menyebut bank komersial China kemungkinan akan tetap mempertahankan suku bunga pinjaman. Jika benar, suku bunga pinjaman ini tidak berubah selama delapan bulan berturut-turut. Ekonom Bloomberg memperkirakan suku bunga utama pinjaman satu tahun akan berada di angka 3%, dan lima tahun 3,5%. 

  2. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan akan melelang Surat Utang Negara dengan target indikatif sebesar Rp33 triliun, dengan imbal hasil di rentang 5,87% hingga 6,87%. 

  3. Malaysia akan merilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) dan neraca perdagangan termasuk di dalamnya pertumbuhan ekspor dan impor Malaysia. IHK Desember Malaysia diprediksi stagnan sama dengan bulan sebelumnya di level 1,4%. Sementara, neraca perdagangan Malaysia diprediksi tumbuh dari sebelumnya US$6,1 miliar menjadi US$17,7 miliar.

Rabu, 21 Januari

  1. Bank Indonesia akan mengumumkan arah suku bunga acuan. Konsensus memprediksi suku bunga acuan akan tetap berada di 4,75%, sebagai bentuk upaya BI dalam stabilitas nilai tukar rupiah. Setelah sempat ramai soal independensi bank sentral yang terusik dengan terbitnya Undang-Undang  Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) akhir kuartal lalu, BI tetap mempertahankan kebijakan moneternya untuk menegaskan mandatnya terhadap stabilisasi nilai tukar.
    AS akan merilis sejumlah data ekonomi, seperti data penjualan properti, pengeluaran konstruksi Menurut survei, data pertumbuhan properti AS berada di posisi -0,5% Desember. 

  2. Inggris juga akan merilis data inflasi IHK periode Desember yang menjadi indikator pemangkasan suku bunga acuan negara tersebut. Inflasi tahunan turun menjadi 3,2% pada bulan November membuat pelaku pasar berekspektasi terhadap penurunan suku bunga oleh bank sentral Inggris. 

  3. Bank Sentral Jepang dijadwalkan akan melakukan pembelian langsung empat sektor pasar obligasi pemerintah Jepang. Mencakup surat berharga pemerintah dengan jangka waktu lebih dari lima tahun hingga 10 tahun, serta jangka waktu lebih dari 25 tahun. Pembelian ini sebagai upaya pemerintah Jepang mendukung pasar obligasi domestik. Pemerintah Jepang melalui Kementerian Keuangan akan melelang obligasi senilai JP¥800 miliar.

Kamis, 22 Januari

  1. AS akan merilis angka inflasi indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti. Data ini ditunggu pelaku pasar setelah turunnya angka pekerjaan baru dan berdampak pada tingkat pengangguran AS. Data ini akan mempengaruhi The Fed dalam kebijakan suku bunga bulan ini. Data inflasi yang diprediksi solid dengan data lapangan kerja yang lebih baik, berpotensi membatasi prospek penurunan suku bunga oleh The Fed pada kuartal pertama tahun ini. Selain itu, AS juga akan merilis data PDB yang diprediksi tumbuh sebesar 4,3%. 

  2. Jepang akan merilis data neraca perdagangan, dengan proyeksi terjadi defisit menjadi JP¥13,9 miliar. Proyeksi ini menjadi sorotan karena jika benar terjadi, akan mencerminkan bagaimana perlambatan permintaan global dan meningkatnya hambatan perdagangan mulai memengaruhi kinerja ekspor-impor negara maju di Asia. 

  3. Korea Selatan akan merilis data PDB kuartal IV-2025. Pertumbuhan ekonomi Korea Selatan diperkirakan melambat pada periode Oktober-Desember. Meski begitu, secara umum capaian ini masih konsisten dengan perkiraan pertumbuhan tahunan yang diproyeksikan oleh Bank Sentral Korea Selatan yaitu 1% pada 2025. Analis menilai, pertumbuhan ini disokong oleh capaian ekspor Korea Selatan yang relatif stabil lantaran permintaan semikonduktor yang tinggi dan mengimbangi tekanan tarif. 

  4. Bank Sentral Malaysia juga akan menetapkan arah suku bunga acuannya. Survei memprediksi, bank sentral akan mempertahan suku bunga di 2,75% lantaran pertumbuhan yang relatif kuat dan inflasi yang cukup terkendali.

Jumat, 23 Januari

  1. Singapura akan merilis IHK periode Desember, dengan inflasi diproyeksikan berada di kisaran 1% secara tahunan, menurut ekonom DBS. 

(dsp/aji)

No more pages