Logo Bloomberg Technoz

Sejumlah saham–saham juga menjadi pendorong IHSG pada perdagangan Sesi I. Saham–saham Konsumen non primer, saham infrastruktur, dan saham Konsumen primer mencatatkan kenaikan paling tinggi, dengan masing–masing menguat 1,12%, 0,47%, dan 0,35%.

IHSG All Time High 9.099 (Bloomberg)

Melesat tingginya IHSG sampai dengan ATH merupakan efek secara langsung dari kenaikan sejumlah saham Big Caps, yang dipimpin oleh saham Astra.

Berikut diantaranya berdasarkan data Bloomberg, Senin (19/1/2026).

  1. Astra International (ASII) menyumbang 14,38 poin
  2. Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menyumbang 10,56 poin
  3. Bank Mandiri (BMRI) menyumbang 8,57 poin
  4. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menyumbang 7,88 poin
  5. Barito Pacific (BRPT) menyumbang 7,48 poin
  6. Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) menyumbang 6,85 poin
  7. Chandra Asri Pacific (TPIA) menyumbang 6,24 poin
  8. Pantai Indah Kapuk Dua (PANI) menyumbang 5,64 poin
  9. Vktr Teknologi Mobilitas (VKTR) menyumbang 4,02 poin
  10. Bank Negara Indonesia (BBNI) menyumbang 3,93 poin

Adapun saham Konsumen non primer juga jadi penopang penguatan IHSG, saham PT Ever Shine Tex Tbk (ESTI) yang menguat 34,7%, dan saham PT Bersama Zatta Jaya Tbk (ZATA) yang mencetak kenaikan 34,5%.

Disusul oleh penguatan saham infrastruktur, saham PT Protech Mitra Perkasa Tbk (OASA) melejit 24,6%, saham PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA) juga menguat dengan kenaikan 14,8%, dan saham PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) melesat 13%.

Melansir riset Phintraco Sekuritas, IHSG ditutup menguat di level 9.099,698 pada Sesi I Senin. Secara teknikal, pembentukan histogram positif pada MACD cenderung mengecil dan stochastic RSI berada pada overbought area. 

“Sehingga kami memperkirakan IHSG berpotensi bergerak dalam rentang level 9.050 – 9.125 pada perdagangan Sesi II Senin,” sebut riset Phintraco.

Panin Sekuritas memaparkan, IHSG ditutup menguat 0,27% di level 9.099, melanjutkan tren positifnya dan berbanding terbalik dengan penutupan Bursa AS pada Jumat lalu yang dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian arah kebijakan The Fed di tengah dinamika politik domestik AS, serta eskalasi risiko geopolitik menyusul ketegangan antara AS dan Denmark terkait isu Greenland, termasuk ancaman Presiden AS untuk memberlakukan tarif sebesar 10% mulai 1 Februari 2026 yang berpotensi meningkat menjadi 25% pada Juni 2026. 

Katalis dari dalam negeri, sentimen pasar tetap terjaga oleh perbaikan fundamental ekonomi, tercermin dari realisasi FDI Indonesia yang tumbuh 4,3% YoY pada Kuartal IV–2025, lebih baik dari kuartal sebelumnya yang turun 8,9% YoY.

“Mengindikasikan pemulihan kepercayaan investor asing terhadap prospek ekonomi nasional,,” mengutip Panin Sekuritas dalam riset terbarunya.

(fad/ain)

No more pages