Hari ini rupiah mungkin belum diperdagangkan di pasar spot karena pasar keuangan Indonesia tutup memperingati Isra Mi'raj. Pasar spot kembali buka pada Senin (19/1/2026).
Jika pasar spot rupiah dibuka kembali, secara teknikal rupiah berpotensi kembali melemah pada perdagangan selanjutnya. Dengan target pelemahan menuju Rp16.900/US$ sampai dengan Rp16.950/US$.
Level selanjutnya pelemahan berharap tertahan di Rp17.000/US$ dengan tertembusnya support kuat dari posisi sebelumnya.
Adapun dalam tren jangka menengah, rupiah mengonfirmasi tren bearish. Apabila tertembus trendline channel kuatnya lagi, maka berpotensi membentuk All Time Low baru yang tercermin dari time frame daily.
Jika rupiah memberikan tanda-tanda menguat nantinya, maka resistance terdekat dapat menuju Rp16.840/US$. Sementara rentang gerak rupiah dalam resistance di antara Rp16.800/US$ sampai dengan Rp16.780/US$.
Tekanan Pemberat
Faktor ekternal berkelindan dengan faktor domestik yang terus menekan laju rupiah. Perang dagang yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap mitra dagang Iran ikut membebani laju rupiah di pasar NDF.
Selain itu, kriminalisasi yang menimpa gubernur bank sentral AS justru memperkuat laju dolar AS. Indeks dolar AS tercatat menguat 0,05% ke level 99.372.
Dari domestik, defisit fiskal yang mencapai 2,92% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2025 masih jadi perhatian para pelaku pasar. Kekhawatiran itu diperburuk dengan prediksi beberapa ekonom bahwa defisit akan melebar dan berada di 3-3,5% PDB, seperti yang dilaporkan Citi Group.
Dengan tergelincirnya rupiah, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan tetap menahan suku bunga acuan di level saat ini 4,75% pada rapat 21 Januari mendatang. BI menjaga suku bunga untuk menyokong nilai tukar rupiah agar tidak semakin ambruk, setelah beberapa upaya intervensi moneter yang dilakukan dua hari lalu belum membuahkan hasil.
(riset/aji)


























